Ads 1

Jumat, 21 Agustus 2026

Anak Desa Menuju Kota: Modal Kejujuran Menjadi Pemilik Media Online 2025

Anak Desa Menuju Kota: Modal Kejujuran Menjadi Pemilik Media Online 2025

Kisah Hidup 10 Seri Rules Gajah, S.Kom
Penulis: Rules Gajah, S.Kom
www.rulesgajah.web.id


Seri 1 — Dari Desa, Membawa Mimpi

Tahun 1987, di sebuah sudut kehidupan masyarakat Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, lahirlah seorang anak desa bernama Rules.

Ia bukan anak dari keluarga yang memiliki kemewahan. Masa kecilnya justru mengajarkannya tentang kesederhanaan, kerja keras, dan bagaimana menghargai setiap rupiah yang diperoleh dari keringat sendiri.

Rules tumbuh dengan satu keyakinan sederhana: keadaan boleh sederhana, tetapi cita-cita tidak boleh sederhana.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Barus, Tapanuli Tengah, Rules mulai memikirkan masa depan. Desa telah memberikan akar, tetapi ia merasa harus pergi mencari pengalaman.

Kota menjadi tujuan.

Bukan karena ia membenci desa, tetapi karena ia ingin membuktikan bahwa anak desa juga mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.

Dengan membawa ijazah SMA, pakaian secukupnya, dan keberanian yang jauh lebih besar daripada isi dompetnya, Rules berangkat menuju Medan.

Di dalam perjalanan itu hanya ada satu modal yang benar-benar ia miliki:

kejujuran dan tekad.


Seri 2 — Kota yang Tidak Mudah Ditaklukkan

Kota ternyata tidak seperti yang dibayangkan.

Di kota, tidak ada yang menjamin seseorang akan berhasil hanya karena memiliki cita-cita. Semua harus diperjuangkan.

Rules kemudian melanjutkan pendidikan ke STMIK Potensi Utama pada tahun 2007. Ia memilih pendidikan Diploma 3 dengan bidang yang berkaitan dengan manajemen komputer.

Di lingkungan kampus, Rules mulai mengenal dunia yang lebih luas.

Ia bertemu banyak orang dengan karakter, pemikiran, dan cita-cita yang berbeda.

Di antara teman-teman seperjuangan itu ada Hery, Sahat, Rahmat, Andi, Harul, Mario, dan kawan-kawan lainnya.

Mereka bukan sekadar teman kuliah.

Mereka menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Namun kuliah bukan berarti kehidupan Rules menjadi mudah.

Justru di sinilah perjuangan sesungguhnya dimulai.


Seri 3 — Kuliah Sambil Bekerja

Pada siang hari, Rules menjalani aktivitas sebagai mahasiswa.

Tetapi kehidupan tidak berhenti setelah jadwal kuliah selesai.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja di sebuah warkop di samping kampus.

Ia juga pernah menjadi tukang sapu atau cleaning service (CS).

Pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang.

Namun bagi Rules, tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang halal dan jujur.

Ia membersihkan tempat, melayani pelanggan, membantu pekerjaan orang lain, dan menerima berbagai pekerjaan serabutan.

Kadang tubuh terasa lelah.

Kadang uang yang diperoleh tidak seberapa.

Namun setiap kali rasa lelah datang, Rules mengingat tujuan awalnya.

Ia datang ke kota bukan untuk menyerah. Ia datang untuk mengubah kehidupan.


Seri 4 — Sahabat dan Tim Perjuangan

Perjalanan panjang tidak mungkin dilalui sendirian.

Rules menemukan arti persahabatan melalui teman-teman kampusnya.

Hery, Sahat, Rahmat, Andi, Harul, Mario, dan kawan-kawan menjadi bagian dari lingkaran perjuangan yang kemudian membentuk sebuah tim yang solid.

Mereka berdiskusi tentang masa depan.

Mereka berbicara tentang pekerjaan.

Mereka membicarakan teknologi, bisnis, media, dan bagaimana anak-anak muda seperti mereka bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

Tidak semua rencana langsung berhasil.

Ada yang hanya menjadi pembicaraan.

Ada yang gagal.

Ada pula yang harus ditunda.

Tetapi dari situlah Rules belajar bahwa keberhasilan bukanlah hasil dari satu langkah besar.

Keberhasilan adalah kumpulan dari ribuan langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.


Seri 5 — Tahun 2010, Sebuah Pintu Terbuka

Tahun 2010 menjadi salah satu titik penting dalam kehidupan Rules.

Setelah menjalani proses pendidikan dan berbagai perjuangan, ia menyelesaikan pendidikan D3 di STMIK Potensi Utama, bidang Manajemen Komputer.

Ijazah akhirnya berada di tangannya.

Namun Rules memahami satu hal:

ijazah bukan garis akhir. Ijazah adalah salah satu pintu untuk memasuki perjalanan berikutnya.

Ia tidak ingin hanya menjadi seseorang yang memiliki gelar.

Ia ingin memiliki karya.

Ia ingin membangun sesuatu yang dapat menjadi tempat bagi dirinya dan orang lain untuk berkembang.

Pengalaman bekerja sambil kuliah kemudian menjadi modal yang sangat berharga.

Rules belajar tentang disiplin dari pekerjaan.

Belajar tentang pelayanan dari warkop.

Belajar tentang kerendahan hati dari pekerjaan sebagai CS.

Belajar tentang teknologi dari kampus.

Dan belajar tentang persahabatan dari teman-temannya.

Semua pengalaman tersebut akhirnya menjadi satu kesatuan.


Seri 6 — Menikah dan Memikul Tanggung Jawab

Tahun 2014 menjadi babak baru.

Rules menikah.

Pernikahan membuat kehidupannya semakin penuh tanggung jawab.

Kini bukan hanya cita-cita pribadi yang harus diperjuangkan.

Ada keluarga.

Ada pasangan hidup.

Kemudian hadir anak yang menjadi bagian terpenting dalam perjalanan tersebut.

Sejak saat itu, perjuangan Rules memiliki makna yang lebih besar.

Ia tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang ingin saya capai?”

Ia mulai bertanya:

“Warisan apa yang ingin saya tinggalkan untuk keluarga dan anak saya?”

Jawabannya adalah kerja keras, pendidikan, nama baik, dan kejujuran.

Rules sadar bahwa kehidupan seorang ayah bukan hanya tentang mencari uang.

Seorang ayah juga harus memberikan contoh.

Dan contoh terbaik adalah menunjukkan bahwa kesuksesan tidak perlu diraih dengan mengorbankan kejujuran.


Seri 7 — Dari Komputer Menuju Dunia Media

Latar belakang teknologi dan pengalaman hidup kemudian membawa Rules semakin dekat dengan dunia digital.

Internet berkembang.

Media online berkembang.

Informasi semakin cepat menyebar.

Rules melihat peluang.

Ia mulai memahami bahwa media bukan sekadar tempat menulis berita.

Media adalah ruang untuk menyampaikan informasi, memperjuangkan kebenaran, mengangkat suara masyarakat, dan mendokumentasikan berbagai peristiwa.

Dari sinilah cita-cita membangun media online semakin kuat.

Namun menjadi pemilik media bukan perkara mudah.

Ada biaya operasional.

Ada peralatan.

Ada jaringan.

Ada sumber daya manusia.

Ada tuntutan profesionalisme.

Dan yang paling penting, ada kepercayaan pembaca.

Rules kemudian memilih satu prinsip:

Media boleh kecil, tetapi kejujuran harus besar.


Seri 8 — Membentuk Tim dan Membangun Kepercayaan

Rules tidak ingin membangun media hanya sebagai milik satu orang.

Ia ingin membangun sebuah tim.

Teman-teman lama dan orang-orang baru mulai menjadi bagian dari perjalanan.

Semangat masa kuliah kembali terasa.

Dulu mereka hanya bermimpi.

Kini mereka mulai mencoba mewujudkannya.

Ada yang belajar menulis.

Ada yang belajar mengambil gambar.

Ada yang mencari informasi.

Ada yang mengurus teknologi.

Ada yang membangun jaringan.

Ada yang bekerja di lapangan.

Dari berbagai keterbatasan itulah sebuah ekosistem media mulai dibangun.

Kesalahan tentu pernah terjadi.

Kritik juga datang.

Tidak semua orang menyukai pemberitaan.

Tetapi Rules belajar bahwa media yang ingin dipercaya harus berani bertanggung jawab.

Jika salah, diperbaiki.

Jika kurang lengkap, dilengkapi.

Jika mendapatkan kritik, didengarkan.

Sebab dalam dunia media, kepercayaan jauh lebih mahal daripada popularitas.


Seri 9 — 2025, Anak Desa Menjadi CEO Media Online

Tahun 2025 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panjang Rules.

Seorang anak desa yang dahulu datang ke kota hanya membawa ijazah SMA, kemudian berhasil membangun jalan hidupnya hingga menjadi CEO/pemilik media online.

Perjalanan itu tidak terjadi dalam semalam.

Di balik sebuah nama media terdapat cerita panjang:

lantai warkop yang pernah dibersihkan,

pekerjaan serabutan,

hari-hari kuliah,

perjuangan membayar kebutuhan,

persahabatan,

pernikahan,

keluarga,

kegagalan,

kritik,

dan keberanian untuk mencoba kembali.

Ketika melihat perjalanan tersebut, Rules tidak menganggap dirinya sebagai orang yang paling hebat.

Justru ia merasa bahwa perjalanan itu adalah bukti bahwa anak desa pun bisa memiliki mimpi besar.

Ia tidak melupakan dari mana ia berasal.

Desa tetap menjadi bagian dari identitasnya.

Kota menjadi tempat ia belajar.

Kampus menjadi tempat ia memperoleh ilmu.

Pekerjaan menjadi tempat ia ditempa.

Keluarga menjadi sumber kekuatan.

Dan media menjadi wadah untuk berkarya.


Seri 10 — Modal Terbesar Bukan Uang

Pada akhirnya, Rules memahami bahwa modal terbesar dalam hidup bukanlah uang.

Modal terbesar adalah kejujuran, keberanian, kerja keras, jaringan persahabatan, ilmu, dan kemampuan untuk bangkit ketika gagal.

Dari seorang anak desa kelahiran 1987, Rules menjalani perjalanan panjang menuju kota.

Dari lulusan SMA Negeri 1 Barus.

Menjadi mahasiswa STMIK Potensi Utama tahun 2007.

Lulus D3 pada tahun 2010.

Bekerja di warkop.

Menjadi cleaning service.

Melakukan berbagai pekerjaan serabutan.

Membangun persahabatan dengan Hery, Sahat, Rahmat, Andi, Harul, Mario, dan kawan-kawan.

Menikah pada 2014.

Membangun keluarga.

Kemudian memasuki dunia media online.

Hingga akhirnya pada 2025 berdiri sebagai seorang CEO/pemilik media online.

Cerita Rules bukan cerita tentang seseorang yang tiba-tiba menjadi sukses.

Ini adalah cerita tentang seseorang yang tidak berhenti berjalan meskipun jalannya panjang.

Jika ada satu pesan yang ingin disampaikan kepada anak-anak muda di desa, pesan itu sederhana:

Jangan malu menjadi anak desa.

Desa bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Ijazah bukan jaminan kesuksesan, tetapi ilmu yang disertai kerja keras dapat membuka jalan.

Pekerjaan kecil bukan kehinaan.

Kegagalan bukan akhir.

Dan kejujuran bukan kelemahan.

Justru ketika semua orang berlomba mencari jalan tercepat menuju keberhasilan, tetap memegang kejujuran adalah keberanian.

Rules Gajah percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri.

Ada yang berhasil lebih cepat.

Ada yang harus berjalan lebih jauh.

Ada yang harus jatuh berkali-kali sebelum berdiri.

Yang terpenting adalah jangan berhenti.

Karena bisa jadi, di balik kehidupan sederhana seorang anak desa hari ini, sedang tumbuh seorang pemimpin besar untuk masa depan.

Dari desa menuju kota.
Dari pekerja serabutan menuju profesional.
Dari mahasiswa menuju pengusaha.
Dari pencari kerja menuju pencipta lapangan kerja.
Dari pembaca berita menuju pemilik media.

Itulah perjalanan hidup.

Dan perjalanan itu belum selesai.

Bersambung...


Epilog

Nama Rules Gajah, S.Kom bukan sekadar nama seorang penulis.

Ia adalah simbol sebuah perjalanan.

Perjalanan seorang anak desa yang memilih untuk bermimpi.

Perjalanan seorang mahasiswa yang tidak malu bekerja.

Perjalanan seorang suami dan ayah yang terus berjuang.

Perjalanan seorang pekerja yang akhirnya membangun usaha.

Dan perjalanan seorang insan media yang percaya bahwa informasi harus disampaikan dengan tanggung jawab.

Kisah ini mengajarkan satu hal:

Kesuksesan boleh menjadi tujuan, tetapi kejujuran harus menjadi jalan.

Penulis: Rules Gajah, S.Kom
www.rulesgajah.web.id

Catatan: kisah ini dapat dikembangkan menjadi seri biografi panjang dengan nama tokoh, lokasi, peristiwa, dan detail perjuangan yang disesuaikan dengan pengalaman nyata penulis.

Anak DESA menjadi Ceo


Introduction

Pagi di desa itu selalu dimulai dari bunyi cangkul yang jauh dan asap tipis dari dapur warga, seolah waktu ikut mengukur langkah orang-orang kecil menuju hari yang lebih besar. Di bawah langit yang masih pucat, Raka menatap secarik kertas iklan lowongan yang ditempel di gang sempit - bukan sekadar pengumuman, melainkan pintu yang ia bayangkan bisa ia buka dengan tangannya sendiri.

Tapi mimpi tak pernah datang tanpa harga: disiplin harus dipilih saat malam masih panjang, dan setiap langkah menuju kursi CEO akan diuji oleh bukti yang hilang, kontrak yang menuntut keberanian, sampai satu keputusan yang menentukan apakah ia akan memimpin dari desa atau kota. Inilah perjalanan yang akan membawa Anda masuk ke Pemuda Desa Jadi CEO - dan bertanya, apakah tekad saja cukup untuk mengubah takdir yang selama ini dianggap tetap.

Chapter 1

Iklan Lowongan di Gang Sempit

Papan nama stasiun di ujung gang masih bergetar ketika kereta terakhir melintas, membuat genangan di bawah sandal Raka Pratama beriak seperti kaca retak. Ia baru tiba dua jam lalu, tetapi kota besar itu sudah terasa seperti mesin yang tak punya tombol berhenti.

“Kamarnya di atas,” kata pemilik kontrakan, seorang perempuan berkaus lengan panjang yang membawa kunci berkarat. “Jangan berisik. Jangan bawa teman menginap. Bayar sebelum tanggal lima.”

Raka mengangguk sambil memeluk tas ransel yang isinya tak lebih dari tiga pasang pakaian, map ijazah, dan surat rekomendasi dari kepala desa. Uang di dompetnya tinggal dua ratus delapan puluh ribu rupiah. Ia harus mendapat pekerjaan sebelum uang itu habis.

“Kalau belum dapat kerja, boleh dicicil, Bu?” tanyanya.

Perempuan itu menatapnya dari ujung kepala sampai sepatu kanvas yang terkena lumpur. “Di kota ini semua orang bilang begitu. Besok kalau mau makan, cari kerja. Bukan cari alasan.”

Pintu kamar dibuka. Ruangan itu selebar dua langkah orang dewasa, dengan kasur tipis menempel ke dinding dan jendela kecil menghadap atap seng. Kipas angin di sudut berputar tersendat, mengeluarkan bunyi cekikikan setiap beberapa detik. Dari bawah terdengar suara pedagang mi, klakson, dan pengumuman stasiun yang patah-patah tertelan deru kereta.

Raka meletakkan tas di lantai. Ia belum sempat duduk ketika suara lelaki dari gang memanggil.

“Yang mau kerja harian, kumpul di depan warung! Angkut barang! Dibayar sore!”

Raka langsung turun.

Di depan warung, enam orang sudah berdiri di bawah lampu putih yang dikerumuni ngengat. Mandor bertubuh pendek memegang daftar kusut.

“Kamu baru?” tanyanya.

“Baru sampai, Pak.”

“Bisa angkat?”

“Bisa.”

“Bisa tahan dimaki?”

Raka menelan ludah. “Bisa.”

Mandor menunjuk bak truk yang penuh kardus mi instan. “Naik.”

Malam itu Raka mengangkut kardus dari truk ke gudang kecil di belakang pasar. Telapak tangannya panas, bahunya seperti ditarik dari sendi, dan keringat bercampur debu menempel di leher. Setiap kali ia memperlambat langkah, mandor berteriak.

“Jangan seperti orang jalan-jalan! Kota ini bayar orang yang cepat!”

Raka menggigit bagian dalam pipinya. Di desa, ia pernah mengangkat karung gabah, menarik gerobak pupuk, dan membantu ayahnya memperbaiki atap kandang. Namun di sini, tenaga yang sama seolah tak pernah cukup.

Menjelang tengah malam, mandor menyerahkan uang tiga puluh lima ribu.

“Besok ada lagi?” tanya Raka.

“Kalau masih kuat.”

Raka memasukkan uang itu ke dompet. Tiga puluh lima ribu bukan jalan menuju mimpinya. Namun setidaknya cukup untuk nasi, air minum, dan ongkos mencari pekerjaan lain.

Pagi berikutnya, sebelum matahari muncul di antara gedung-gedung, Raka berjalan menyusuri gang. Ia mencari tempat yang disebut pemilik kontrakan semalam: papan pengumuman lowongan di dekat pintu belakang stasiun. Kata perempuan itu, banyak orang datang ke sana membawa map, lalu pergi membawa wajah yang lebih pucat.

Gang itu semakin sempit mendekati stasiun. Motor melintas tanpa memberi ruang. Seorang penjual bubur memukul mangkuk dengan sendok, sementara tukang koran berteriak menyebut harga saham dan berita politik. Raka harus menempel ke tembok ketika dua petugas kebersihan mendorong tong sampah besar.

Papan pengumuman itu berada di bawah tangga beton, terlindung kanopi plastik yang sobek. Kertas-kertas ditempel bertumpuk, sebagian basah, sebagian menguning. Ada lowongan pelayan, penjaga gudang, kurir, operator mesin, dan pekerja bongkar muat.

Raka mendekat.

Matanya berhenti pada selembar kertas putih yang masih bersih.

DICARI: CALON CEO PROGRAM PERCEPATAN USAHA.

Ia membaca baris berikutnya dua kali.

Sebuah perusahaan distribusi bernama Arunika Niaga membuka jalur seleksi untuk calon pemimpin operasional. Pelamar harus memiliki kemampuan mengatur tim, membaca laporan keuangan, dan menyelesaikan masalah lapangan. Pengalaman kerja menjadi nilai tambah, tetapi bukan syarat mutlak.

Di bagian bawah tertulis alamat surel dan tenggat pengiriman berkas: pukul dua puluh tiga lima puluh sembilan, tiga hari lagi.

Raka memegang ujung kertas itu. Kata CEO tampak terlalu besar untuk papan kusam di gang sempit. Terlalu tinggi untuk seseorang yang semalam mengangkut kardus dan tidur dengan suara kereta.

Seorang pemuda berjaket hitam menyenggol bahunya.

“Jangan lama-lama, Mas. Mau daftar atau cuma baca?”

Raka mundur sedikit. “Ini lowongan sungguhan?”

Pemuda itu tertawa pendek. “Kalau mau jadi CEO, biasanya bukan berdiri di gang begini.”

“Alamat perusahaannya ada.”

“Alamat bisa dicetak siapa saja.”

Raka kembali menatap kertas itu. Di pojok kanan bawah tercetak lambang Arunika Niaga, sama seperti logo pada kendaraan pengiriman yang sering melewati pasar desa. Ia pernah melihatnya ketika membantu ayah mengantar hasil panen ke pengepul. Perusahaan itu besar. Barang-barangnya masuk ke banyak warung.

“Mas, ada komputer?” tanya Raka.

“Di stasiun ada tempat cetak.”

Raka merobek pelan bagian bawah iklan yang memuat alamat surel. Pemuda berjaket hitam mendecakkan lidah.

“Kalau gagal, jangan salahkan kertasnya.”

Raka menyelipkan potongan itu ke dompet. “Saya belum gagal.”

Tempat cetak di lantai dua stasiun dipenuhi orang. Mesin fotokopi berdengung, kertas menyembur dari printer, dan suara petugas loket bersahutan dengan pengumuman keberangkatan. Raka berdiri hampir satu jam sebelum mendapat komputer kosong.

Ia membuka surel baru. Jari-jarinya kaku saat mengetik. Ia melampirkan ijazah sekolah menengah, sertifikat pelatihan administrasi desa, dan surat rekomendasi kepala desa. Ketika hendak mengirim, ia melihat kolom pengalaman kerja.

Raka menulis: membantu pengelolaan hasil panen, mengatur pengiriman, mencatat pemasukan dan pengeluaran kelompok tani.

Ia berhenti. Kalimat itu terdengar kecil. Tidak ada jabatan, tidak ada nama perusahaan, tidak ada angka yang mengesankan.

Di belakangnya, seorang laki-laki berkata, “Kalau cuma lulusan desa, jangan berharap banyak. Mereka cari orang yang sudah biasa memimpin.”

Raka menoleh. Laki-laki itu mengenakan kemeja rapi dan membawa map biru.

“Bapak melamar juga?” tanya Raka.

“Bukan. Saya mengantar keponakan.” Ia melirik layar Raka. “CEO itu bukan pekerjaan pertama. Kamu sebaiknya mulai dari bawah.”

“Saya memang mulai dari bawah.”

“Bawah yang mana? Gudang?”

Raka menutup kolom pengalaman, lalu membukanya lagi. Ia menghapus kalimat tadi dan menggantinya dengan angka-angka yang ia ingat: dua puluh tiga petani dalam kelompok, empat puluh delapan pengiriman selama musim panen, selisih kerugian yang berhasil ditekan setelah ia mengubah jadwal pengangkutan.

Laki-laki itu terdiam.

Raka menekan tombol kirim.

Layar menampilkan pesan bahwa berkas telah diterima. Namun belum sempat ia menarik napas, ponselnya bergetar.

Sebuah surel masuk dari Arunika Niaga.

Terima kasih. Berkas Anda memenuhi syarat awal. Hadir untuk tes kemampuan dan wawancara singkat besok pukul delapan pagi di kantor pusat. Bawa dokumen asli dan bukti pengalaman memimpin.

Di bawahnya ada satu kalimat tebal: Keterlambatan lebih dari lima menit dianggap mengundurkan diri.

Raka membaca alamat kantor. Lokasinya berada di kawasan perkantoran di sisi lain kota, dua kali berganti kereta dan satu kali naik bus.

“Cepat sekali dipanggil,” kata laki-laki berkemeja itu.

Raka memasukkan ponsel ke saku. “Besok saya datang.”

“Dengan pakaian itu?”

Raka menunduk melihat kemeja cokelat yang ia pakai sejak perjalanan. Kerahnya kusut. Ada noda minyak di lengan.

“Saya akan cari yang lebih pantas.”

“Cari juga bukti pengalaman. Mereka tidak akan percaya cerita tentang sawah.”

Kalimat itu mengikuti Raka sampai ia turun dari stasiun. Ia kembali ke gang, menyusuri deretan warung dan bengkel. Di sebuah kios pakaian bekas, ia menemukan kemeja putih dengan harga dua puluh ribu. Ukurannya sedikit sempit di bahu, tetapi masih bisa dikancingkan.

“Kalau mau yang tidak kusam, tiga puluh lima,” kata penjual.

“Yang ini saja.”

“Untuk wawancara?”

Raka terkejut. “Kok tahu?”

“Orang yang beli kemeja putih di jam segini biasanya mau wawancara atau menikah.”

Raka membayar. Sisa uangnya tinggal dua ratus dua puluh lima ribu. Ia membeli nasi bungkus, lalu duduk di tepi selokan sambil membuka ponsel. Pesan surel itu masih ada. Undangan tes. Jalan masuk yang selama ini hanya ia bayangkan ketika mencatat nama-nama pengusaha sukses di buku sekolah.

Namun “bukti pengalaman memimpin” berputar di kepalanya.

Malamnya, Raka menghubungi Pak Seno, ketua kelompok tani di desanya. Sinyal terputus dua kali sebelum suara tua itu terdengar.

“Raka? Sudah sampai?”

“Sudah, Pak. Saya butuh surat yang menjelaskan pekerjaan saya di kelompok tani.”

“Surat apa?”

“Yang menyebut saya mengatur pengiriman dan pencatatan.”

Pak Seno tertawa kecil. “Kamu dari dulu memang mengurus itu. Tapi untuk apa?”

Raka menatap langit-langit kamar yang bernoda air. “Saya dipanggil tes untuk jalur calon CEO.”

Di ujung sana terdengar hening.

“CEO?” ulang Pak Seno.

“Iya.”

“Kalau begitu, jangan tulis hanya mengurus. Tulis waktu gudang hampir rugi karena truk datang terlambat. Kamu yang mengubah jadwal. Ingat?”

Raka mengingatnya. Musim hujan dua tahun lalu. Jalan desa tertutup longsor, tiga ton cabai hampir busuk, dan para petani saling menyalahkan. Ia menghubungi sopir dari desa sebelah, membagi muatan menjadi tiga kendaraan kecil, lalu mengirim semuanya sebelum sore.

“Bapak bisa tulis itu?”

“Bisa. Tapi tanda tangan dan cap desa baru dapat besok pagi.”

“Besok pagi saya harus berangkat.”

“Kalau begitu ambil sekarang. Saya kirim foto dulu.”

Beberapa menit kemudian, ponsel Raka menerima gambar surat dengan tulisan tangan Pak Seno. Tidak rapi, tetapi jelas. Raka menyimpannya, lalu menyalakan lampu kamar dan mulai menyusun berkas.

Ia menulis pengalaman memimpin dengan tangan sendiri karena komputer tempat cetak sudah tutup. Setiap kalimat ia ukur, takut terdengar membesar-besarkan, tetapi juga takut terlalu kecil untuk dilihat.

Pukul lima pagi, ia mengenakan kemeja putih bekas dan celana hitam pinjaman dari penjaga kontrakan. Sepatunya masih bernoda lumpur. Ia menggosoknya dengan kain basah sampai permukaannya mengilap seadanya.

Di pintu gang, mandor angkut barang sudah menunggu.

“Kerja pagi ini?” tanya mandor.

“Tidak bisa, Pak. Saya ada tes.”

Mandor memandang kemeja putihnya. “Tes apa?”

“Untuk calon pemimpin.”

Mandor tertawa keras. “Kemarin angkat kardus saja hampir jatuh.”

Raka mengepalkan surat di dalam map. “Kemarin saya belum tahu tempatnya.”

“Kalau gagal?”

Raka menatap jalur rel yang berkilat diterpa cahaya pagi. “Saya kembali sore.”

Ia berlari menuju stasiun.

Dua kereta penuh membuatnya terjepit di antara seorang ibu yang membawa anak dan pekerja kantor yang memegang gelas kopi. Map Raka tertekan di dada. Di stasiun kedua, ia salah keluar dan harus memutar melewati jembatan penyeberangan. Bus yang ditumpanginya berhenti terlalu lama di persimpangan. Jam di ponselnya menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh dua ketika ia turun.

Gedung Arunika Niaga menjulang dengan dinding kaca biru. Raka berdiri di depannya, napas tersengal. Sepuluh menit tersisa.

Petugas keamanan mengangkat tangan. “Keperluan?”

“Tes seleksi calon CEO.”

“Undangan?”

Raka menyerahkan ponsel.

Petugas itu membaca, lalu melihat pakaian Raka. “Lantai dua belas. Isi buku tamu.”

Di meja penerima tamu, seorang perempuan memeriksa mapnya.

“Dokumen asli?”

Raka mengeluarkan ijazah dan surat dari Pak Seno.

Perempuan itu membaca surat tersebut cukup lama. “Ini surat dari kepala desa?”

“Ketua kelompok tani, dengan cap desa.”

“Pengalaman memimpin kelompok usaha?”

“Kelompok tani.”

Perempuan itu mengembalikan surat itu. “Kami minta pengalaman organisasi atau perusahaan yang terdaftar.”

“Di iklan tertulis pengalaman bukan syarat mutlak.”

“Untuk tahap awal, benar. Tapi tes ini untuk kandidat yang bisa langsung bekerja.”

“Saya bisa bekerja.”

“Bisa membuktikan?”

Pertanyaan itu jatuh lebih berat daripada kardus mana pun.

Raka membuka mapnya. Ia menunjukkan catatan pengiriman, tabel sederhana hasil panen, dan foto gudang desa yang ia cetak dari kios stasiun. Perempuan itu melihat sekilas, lalu menggeleng.

“Data ini tidak terdaftar di sistem kami.”

“Karena ini bukan data perusahaan Bapak.”

“Kalau tidak terdaftar, kami tidak bisa memverifikasi.”

Seorang pria berkacamata keluar dari pintu ruang rapat. Ia mengambil map Raka, membaca halaman pertama, lalu menatapnya.

“Kamu dari mana?”

“Desa Wanasari.”

“Pendidikan?”

“Sekolah menengah kejuruan. Administrasi.”

“Pernah memimpin karyawan?”

“Belum.”

“Pernah mengelola anggaran perusahaan?”

“Anggaran kelompok tani.”

Pria itu menutup map.

“Raka, kami tidak menolak karena kamu dari desa,” katanya, meski nada suaranya membuat kalimat itu terdengar seperti penolakan. “Kami menolak karena pengalamanmu belum terbukti di lingkungan yang bisa kami ukur.”

Raka merasakan panas naik ke wajahnya. “Beri saya kesempatan untuk ikut tes.”

“Buktikan dulu dalam tiga hari.”

“Bagaimana caranya?”

Pria itu menunjuk mapnya. “Dapatkan pengalaman yang bisa diverifikasi. Kerja di tempat yang punya catatan. Pimpin sesuatu yang menghasilkan angka. Kalau ada bukti, kirim sebelum Jumat pukul enam sore. Setelah itu, tidak ada panggilan.”

Raka memandang jam dinding. Pukul delapan lewat empat menit.

“Jadi saya tidak boleh ikut hari ini?”

“Belum.”

“Dan kalau saya membuktikan - ”

“Kami pertimbangkan undangan tes. Bukan penerimaan.”

Raka mengambil mapnya. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak menunduk.

“Baik.”

Di lobi, pintu kaca menutup di belakangnya. Kota kembali menyambut dengan suara bus, rem mendecit, dan orang-orang yang berjalan seolah punya tujuan sejak lahir. Raka berdiri di trotoar, memegang undangan bersyarat yang baru saja dicetak petugas keamanan.

Ia mendapatkan akses yang diinginkannya, tetapi bukan dalam bentuk yang ia bayangkan. Bukan kursi wawancara, bukan ruang tes, melainkan tenggat tiga hari dan sebuah syarat yang nyaris mengejek seluruh hidupnya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari mandor angkut barang masuk.

Kalau masih mau kerja, gudang butuh orang siang ini. Ada catatan pengiriman. Bisa kamu pegang?

Raka membaca pesan itu sekali lagi.

Ia menatap gedung Arunika Niaga, lalu menatap map di tangannya. Tiga hari. Catatan pengiriman. Angka yang bisa diverifikasi.

Raka membalas singkat.

Saya datang sekarang. сда

Chapter 2

Memilih Disiplin Saat Malam

Raka menekan tombol kirim sebelum keberaniannya surut.

Pesan itu meluncur kepada nomor Pak Seno: “Saya datang sekarang.” Layar ponselnya memantulkan wajah yang belum sempat dicuci bersih dari debu gudang. Di bawah kuku masih terselip warna abu-abu semen. Bau keringat, kardus basah, dan jalanan yang baru diguyur hujan melekat di bajunya.

Ia berdiri di ujung gang sempit tempat papan lowongan itu pertama kali ditemukan. Sepuluh menit kemudian, laki-laki berkemeja keluar dari pintu kaca kantor kecil dengan map cokelat di tangan.

“Raka Pratama?”

Raka mengangkat tangan. “Saya.”

Laki-laki itu memandang sepatu Raka yang berlumpur, lalu memandang wajahnya. “Kamu datang lebih cepat dari perkiraan.”

“Bapak bilang waktunya terbatas.”

“Waktu memang terbatas.” Ia menyerahkan map itu. “Tapi pengalamanmu tidak tercatat di sistem kami.”

Jari Raka mengencang di tepi map. “Saya sudah menjelaskan. Saya pernah memimpin kelompok tani di desa. Mengatur pengiriman, membagi tugas, mencatat hasil panen.”

“Menjelaskan berbeda dengan membuktikan.” Laki-laki itu menarik napas pendek. “Untuk tahap berikutnya, kami butuh portofolio. Bukan cerita.”

Raka membuka map. Di dalamnya hanya ada selembar kertas berisi alamat kantor dan tenggat waktu tiga hari.

“Tiga hari?” tanyanya.

“Kalau tidak ada bukti yang bisa kami periksa, prosesmu berhenti.”

Pintu kaca menutup di antara mereka. Raka masih berdiri, memegang kertas itu sampai ujungnya melengkung. Di belakangnya, suara bus menggeram dan klakson saling susul. Kota seperti tidak punya ruang untuk orang yang terlambat memahami aturan.

Ia pulang ke kontrakan dengan langkah panjang. Pemilik kontrakan sedang menyapu lorong ketika Raka melewatinya.

“Ditolak lagi?” tanyanya tanpa menoleh.

Raka berhenti. “Belum.”

“Wajahmu seperti orang yang baru ditolak.”

“Baru diberi waktu untuk membuktikan.”

Pemilik kontrakan menyandarkan sapu ke dinding. “Itu kadang lebih berat.”

Raka tidak menjawab. Ia masuk ke kamar sempitnya, menaruh map di atas kasur, lalu duduk di lantai. Surat dari kelompok tani belum juga datang. Pesan kepada Pak Seno belum dibalas. Uang di dompet hanya cukup untuk makan sederhana sampai dua hari ke depan.

Di dinding, jam murah berdetak terlalu keras.

Raka mengambil buku tulis bekas yang sampulnya sudah terkelupas. Ia menulis judul di halaman pertama: “Bukti Kerja.”

Tangannya berhenti. Apa yang bisa ia buktikan? Mengangkat karung? Mengantar barang? Menyusun rak? Semua orang bisa melakukannya. Bahkan mungkin tidak ada yang mau membayar pengalaman itu.

Ia meremas halaman tersebut, tetapi tidak jadi merobeknya.

Pagi berikutnya, sebelum berangkat ke pekerjaan serabutan, Raka pergi ke perpustakaan kota. Ia membawa map cokelat, buku tulis, dan sebuah pulpen biru yang tintanya sering putus-putus. Ruang baca masih sepi. Pendingin udara mendengung dari langit-langit, sementara bau kertas tua bercampur dengan aroma lantai yang baru dipel.

Raka duduk di dekat jendela. Dari sana, gedung-gedung tinggi tampak seperti dinding yang tidak selesai dibangun.

Ia membuka komputer perpustakaan dan mencari cara menyusun portofolio kerja. Beberapa halaman membuatnya merasa semakin kecil. Ada istilah yang tidak ia kenal, contoh laporan yang penuh grafik, dan kalimat-kalimat yang terdengar seperti dibuat untuk orang yang sejak kecil terbiasa berada di depan layar.

Raka menutup satu halaman dengan kesal.

“Kalau hanya membaca, sampai malam juga tidak akan jadi,” gumamnya.

Ia kembali membuka buku tulis. Kali ini ia menuliskan semua hal yang pernah ia kerjakan di desa. Bukan jabatan, bukan kata-kata besar. Hanya pekerjaan yang benar-benar ia ingat.

Mengatur tiga puluh dua petani saat panen cabai. Mencatat berat hasil setiap kebun. Menyusun jadwal pengiriman agar tidak bertabrakan. Menegosiasikan harga dengan pengepul ketika timbangan mereka berbeda. Mengumpulkan uang iuran untuk membeli pompa air.

Semakin lama menulis, semakin banyak yang muncul. Ia teringat malam ketika hujan membuat jalan desa licin dan sebuah truk tidak bisa masuk. Ia dan dua orang pemuda mengangkut peti cabai melewati pematang. Ia teringat bagaimana para petani menunggu keputusannya ketika harga turun.

Dulu ia menyebut semua itu sebagai pekerjaan biasa.

Di perpustakaan, ia melihatnya dengan cara lain.

Raka membuka lembar kosong di komputer. Ia mengetik perlahan. Bukan “saya berpengalaman memimpin,” melainkan “saya mengatur pengiriman hasil panen dari tiga puluh dua petani dalam satu jadwal.”

Kalimat itu tidak terdengar hebat. Namun ia memiliki angka, kejadian, dan akibat.

Ponselnya bergetar. Pesan dari mandor masuk.

“Bisa masuk siang? Ada bongkar muatan.”

Raka menatap jam. Ia baru memiliki waktu dua jam sebelum harus naik bus ke gudang. Portofolio itu belum berbentuk. Perutnya kosong. Matanya panas karena tidur yang terpotong-potong.

Ia mengetik, “Bisa.”

Sesaat sebelum mengirim, ia menghapusnya dan menulis ulang, “Bisa. Saya datang tepat waktu.”

Pesan terkirim.

Di gudang, mandor memberinya tugas memindahkan kardus minuman dari truk ke rak belakang. Bau plastik dan sirup menempel di udara. Punggung Raka terasa ditarik setiap kali mengangkat kardus, tetapi ia tetap menghitung jumlah yang masuk.

“Jangan terlalu lama mencatat,” bentak mandor. “Kerja dulu.”

“Kalau tidak dicatat, nanti jumlahnya bisa beda.”

Mandor menoleh tajam. “Kamu mau mengajari saya?”

Raka menurunkan kardus. Kalimat itu hampir keluar: saya pernah mengatur tiga puluh dua petani. Namun ia menahannya. Di sini, pengalaman desa tidak otomatis membuat siapa pun menghormatinya.

“Tidak,” jawabnya. “Saya hanya tidak ingin ada yang kurang.”

Mandor mendengus. “Kalau ada yang kurang, kamu yang ganti?”

Raka menatap tumpukan kardus. “Kalau saya yang salah menghitung, saya ganti.”

Mandor tidak menjawab. Ia pergi ke sisi truk.

Menjelang sore, Raka menemukan dua kardus lebih banyak daripada catatan awal. Ia menunjukkan perbedaannya kepada mandor. Lelaki itu memeriksa surat jalan, lalu menggaruk kepalanya.

“Masukkan saja ke rak. Besok saya bereskan.”

Raka mengangguk. Sebelum pulang, ia menyalin catatan itu ke buku kecilnya. Bukan karena ingin dipuji. Ia hanya mulai mengerti bahwa pekerjaan kecil pun bisa meninggalkan jejak, jika dikerjakan dengan benar.

Malamnya, ia kembali ke perpustakaan. Hujan turun deras. Air menetes dari ujung rambutnya ke meja, membentuk lingkaran kecil di atas kayu. Petugas perpustakaan sudah dua kali memandang jam.

“Mas, lima belas menit lagi tutup,” katanya.

“Baik, Bu.”

Raka mempercepat ketikan. Portofolionya berisi tiga halaman: persoalan, tindakan, hasil. Ia memasukkan pengalaman mengatur panen, catatan perbedaan stok di gudang, dan rancangan sederhana untuk mengatur pengiriman barang dari kantor kecil tempat ia pernah membantu laki-laki berkemeja.

Tidak ada foto dirinya memakai jas. Tidak ada sertifikat mengilap. Hanya tabel sederhana, catatan tangan yang ia pindai dengan kamera ponsel, dan keterangan dari orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Ketika hendak menyimpan berkas, komputer tiba-tiba mati.

Layar menjadi hitam.

Raka membeku. “Bu, tunggu.”

Petugas itu sudah mematikan sebagian lampu. “Komputernya memang kadang begitu. Besok saja dilanjutkan.”

“Berkas saya belum tersimpan.”

Ia menekan tombol daya berkali-kali. Komputer menyala, lalu berhenti di layar biru. File yang baru dikerjakannya tidak muncul.

Raka menunduk. Suara hujan di luar terdengar seperti ribuan jari mengetuk kaca. Tiga hari. Satu malam sudah habis. Ia membayangkan laki-laki berkemeja menutup mapnya, pemuda berjaket hitam yang pernah menatapnya seolah Raka hanya salah satu dari banyak pencari kesempatan.

Petugas itu mendekat. “Masih ada salinannya?”

Raka memeriksa ponsel. Foto catatan ada. Sebagian teks tersimpan di pesan draf. Tidak semuanya.

“Sebagian.”

“Kalau begitu, jangan mulai dari nol.”

Kalimat sederhana itu membuat Raka menatap layar lagi.

Ia memotret halaman yang hilang dari buku tulis. Kemudian ia membuka aplikasi catatan di ponsel dan menyusun ulang bagian-bagian yang lenyap. Jempolnya pegal. Matanya berkunang-kunang. Ketika petugas kembali mengingatkan bahwa perpustakaan harus tutup, Raka belum selesai.

“Bawa pulang,” kata petugas itu. “Besok datang lagi.”

Raka mengangguk, tetapi tidak langsung berdiri. Ia memandang halaman terakhir yang kosong. Di sana ia menulis dengan tangan, “Sistem boleh gagal. Catatan tidak boleh hilang.”

Ia membawa map dan buku itu ke kantor kecil tempat laki-laki berkemeja bekerja. Kantor tersebut berada di lantai dua sebuah ruko, di atas toko fotokopi yang suara mesinnya berputar tanpa henti. Pak Seno sudah menunggu di dekat pintu.

“Kamu belum menyerah?” tanyanya.

Raka mengira Pak Seno akan menyindir. Namun lelaki itu hanya menggeser kursi.

“Saya belum punya alasan untuk menyerah.”

“Alasanmu ingin menjadi CEO?”

Raka menatap meja penuh berkas. “Alasan saya ingin membuktikan bahwa saya bukan orang yang salah alamat.”

Pak Seno tersenyum tipis. “Duduk. Tunjukkan yang sudah kamu buat.”

Raka membuka map. Ia menjelaskan pengaturan panen, catatan stok, dan rancangan pengiriman. Suaranya sempat tersendat ketika sampai pada bagian hasil. Ia tidak memiliki angka keuntungan yang besar. Tidak ada nama perusahaan terkenal.

“Lalu apa hasilnya?” tanya Pak Seno.

“Pengiriman tidak terlambat. Petani tidak perlu menunggu sampai malam. Selisih timbangan bisa diketahui sebelum barang dibayar.”

“Itu hasil yang bisa dihitung.” Pak Seno menunjuk tabelnya. “Tapi formatnya berantakan.”

Raka menunduk. “Saya bisa memperbaiki.”

“Bukan hanya format. Cara berpikirmu juga masih melompat-lompat.” Pak Seno mengambil pulpen dan menggambar tiga kotak di kertas. “Masalah. Keputusan. Dampak. Kalau orang lain tidak bisa mengikutinya, pengalamanmu tetap terlihat seperti cerita warung kopi.”

Raka merasakan panas naik ke wajahnya. Ia ingin mengambil map itu dan pergi. Sejak tiba di kota, ia sudah terlalu sering mendengar bahwa pekerjaannya kecil, caranya kasar, dan pengalamannya tidak terdaftar. Harga dirinya tinggal sedikit. Kritik itu menyentuh bagian yang paling ia lindungi.

Pak Seno meletakkan pulpen. “Kalau mau dipuji, kamu datang ke tempat yang salah.”

Raka mengangkat wajah. “Kalau saya memperbaikinya malam ini?”

“Besok pagi kirim kepadaku.”

“Bapak akan membacanya?”

“Kalau tidak jelek-jelek amat.”

Raka hampir tersenyum. “Itu berarti iya?”

“Itu berarti jangan membuat saya menyesal.”

Ia kembali ke perpustakaan sampai petugas benar-benar memadamkan lampu ruang baca. Setelah itu ia duduk di tangga gedung, ditemani suara hujan yang mulai menipis. Ponselnya menunjukkan pukul sebelas lewat. Pesan dari pemilik kontrakan masuk: “Jangan lupa uang kamar besok.”

Raka memijat pelipis. Ia bisa mengambil pekerjaan bongkar muatan tambahan malam itu. Uangnya cukup untuk membayar kamar. Namun jika ia pergi, portofolio yang diminta Pak Seno tidak akan selesai.

Untuk beberapa detik, ia membayangkan dirinya kembali ke gang sempit, menurunkan map di depan kantor, lalu berkata bahwa semua ini terlalu tinggi untuknya.

Kemudian ia melihat tangannya sendiri. Ada garis hitam di telapak, bekas mengangkat kardus. Tangan yang sama pernah mengikat karung cabai, memperbaiki pompa air, dan menahan pintu gudang saat badai datang.

Raka berdiri.

Ia menelepon mandor. “Pak, saya tidak bisa ambil bongkaran malam ini.”

“Besok jangan harap ada kerjaan.”

“Saya mengerti.”

“Kamu pikir kerja kantor itu menunggu kamu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Raka memandang gedung perpustakaan yang pintunya telah terkunci. “Saya sedang mengerjakan sesuatu yang harus selesai.”

Mandor mengumpat pelan sebelum memutuskan sambungan.

Raka pulang berjalan kaki. Di kamar, ia menyalakan lampu kecil dan membuka buku tulis. Ia menyusun ulang portofolionya dengan tiga bagian yang digambar Pak Seno. Masalah. Keputusan. Dampak.

Malam bergeser menjadi dini hari. Berkali-kali ia menghapus kalimat yang terlalu besar. Berkali-kali ia mengganti kata “memimpin” dengan tindakan yang bisa diperiksa. Ia menambahkan foto catatan panen, tangkapan pesan dari kelompok tani, dan tabel stok gudang yang ia buat sendiri. Pada halaman terakhir, ia menulis namanya.

Raka Pratama.

Bukan sebagai buruh angkut. Bukan sebagai anak desa yang kebetulan mengirim lamaran CEO. Hanya namanya, berdiri di bawah pekerjaan yang pernah ia lakukan.

Pagi datang bersama suara motor dan aroma minyak goreng dari warung depan. Raka mengirim berkas itu kepada Pak Seno sebelum berangkat kerja.

Balasan masuk dua puluh menit kemudian.

“Datang ke kantor pukul sembilan. Bawa salinan.”

Raka membaca pesan itu dua kali.

Di kantor, Pak Seno membuka berkas tersebut tanpa banyak bicara. Laki-laki berkemeja berdiri di belakangnya. Raka menunggu, kedua tangannya saling menggenggam.

“Ini lebih baik,” kata Pak Seno.

Raka menahan napas.

“Masih belum sempurna. Tetapi sekarang saya bisa melihat cara kamu bekerja, bukan sekadar mendengar pengakuanmu.”

Laki-laki berkemeja mengambil beberapa lembar. “Saya kirim ke tim seleksi.”

“Jadi saya lolos?”

“Belum,” katanya. “Kamu mendapat kesempatan mengikuti tes lanjutan.”

Raka mengangguk, tetapi belum sempat menjawab ketika Pak Seno menambahkan, “Dan mulai hari ini, saya ingin kamu membantu menyusun data proyek pengiriman untuk kantor ini.”

Raka menatapnya. “Sebagai apa?”

“Sebagai orang yang sudah menunjukkan bahwa catatan kecil bisa menyelamatkan pekerjaan besar.”

Di luar, suara mesin fotokopi kembali berputar. Raka memegang map portofolionya lebih erat. Tiga halaman itu belum mengubah hidupnya. Belum membuat siapa pun memanggilnya pemimpin.

Namun untuk pertama kalinya sejak tiba di kota, ia tidak datang dengan tangan kosong.

Di halaman terakhir, namanya tidak lagi tampak seperti permintaan. Ia mulai terlihat seperti bukti.

Chapter 3

Bukti Hilang di Arsip Perusahaan

“Portofolio ini tidak terdaftar, Pak.”

Suara petugas meja penerimaan terdengar datar, tetapi kalimat itu menghantam Raka lebih keras daripada suara truk yang biasa meraung di depan gudang. Ia berdiri di ruang lobi kantor pusat, menggenggam map cokelat yang sudutnya mulai tertekuk. Di dalamnya ada halaman-halaman yang ia susun sampai larut malam, ditemani buku tulis bekas dan pulpen biru yang tintanya sering putus-putus.

“Tidak terdaftar bagaimana?” Raka menahan suaranya agar tidak meninggi. “Saya menyerahkannya tiga hari lalu. Ada tanda terimanya.”

Petugas itu memutar layar komputer sedikit, seolah-olah angka di sana lebih penting daripada wajah Raka. “Nomor registrasinya tidak muncul di sistem seleksi.”

“Bisa dicek lagi?”

“Sudah.”

“Nama saya Raka Pratama. Saya dipanggil untuk mengikuti tahap berikutnya. Pesannya jelas.”

Petugas itu mengetik beberapa kali. Bunyi tombol yang ditekan cepat memenuhi lobi berpendingin terlalu dingin. “Yang muncul di sini hanya berkas lamaran awal. Portofolio tidak ada.”

Raka membuka map cokelatnya. Kertas-kertas di dalamnya masih tersusun sesuai urutan: pengalaman memimpin kelompok tani, catatan pembagian hasil panen, rancangan pengelolaan gudang, dan surat pengantar dari Pak Seno. Ia menyentuh halaman terakhir dengan ujung jari.

“Kalau tidak ada, lalu ini apa?” tanyanya.

Petugas itu melirik sebentar. “Bisa saja itu salinan pribadi.”

Dada Raka terasa sesak. Kemarin, halaman terakhir itu membuat namanya terlihat seperti bukti. Pagi ini, di gedung tinggi dengan lantai mengilap, namanya kembali diperlakukan seperti permintaan yang salah alamat.

“Siapa yang bisa menjelaskan?”

“Bagian arsip. Lantai bawah. Tapi aksesnya terbatas.”

Raka menatap pintu kaca di belakang meja penerimaan. Di baliknya, lorong menuju lift karyawan memanjang dengan lampu putih yang tak berkedip. Ia tidak datang untuk pulang membawa map yang sama. Ia ingin tahu di mana portofolionya hilang, dan siapa yang membuatnya hilang.

“Kalau saya ke bagian arsip sekarang?”

Petugas itu mengangkat bahu. “Tanya saja. Kalau mereka mau menerima.”

Raka memasukkan kembali berkasnya. Tangannya masih menggenggam pulpen biru. Pulpen itu ia bawa tanpa sadar, seperti membawa sepotong kecil meja kontrakan ke gedung perusahaan.

Di lantai bawah, udara berubah lembap dan berbau kertas tua. Seorang perempuan berkacamata duduk di balik meja besi, ditemani rak-rak tinggi yang dipenuhi boks berlabel tahun dan kode departemen. Ia mengangkat kepala ketika Raka menyebut namanya.

“Portofolio seleksi CEO?” ulangnya.

“Ya, Bu. Nomor registrasi saya tidak muncul di sistem.”

Perempuan itu mengambil kartu identitas sementara dari tangan Raka, lalu mencatat sesuatu di buku besar. “Nama lengkap?”

“Raka Pratama.”

Ia memeriksa komputer tua di sampingnya. Layar menampilkan baris-baris data dengan warna pucat. “Nomornya?”

Raka menyebutkan nomor yang tercetak pada tanda terima. Perempuan itu mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

“Tidak ada.”

“Boleh saya lihat?”

“Tidak.”

Raka menelan ludah. “Tapi saya punya tanda terima.”

“Tanda terima bukan bukti data sudah masuk,” jawabnya. “Kadang berkas tertahan di unit penghubung.”

“Unit mana?”

Perempuan itu menutup buku besar. “Mas, saya hanya mengurus arsip fisik. Kalau data tidak ada, saya tidak bisa menciptakan data.”

“Saya tidak minta Ibu menciptakan apa pun. Saya hanya ingin tahu berkas saya berpindah ke mana.”

Untuk pertama kalinya, perempuan itu menatapnya lebih lama. Mungkin karena nada Raka tidak lagi terdengar seperti pelamar yang kebingungan. Mungkin juga karena ia melihat map cokelat yang sudah mulai kusam di tangan pemuda itu.

“Berkas seleksi disimpan di ruang arsip khusus,” katanya pelan. “Kodenya A-17. Tapi ruangan itu tidak dibuka tanpa izin kepala administrasi.”

“Siapa kepala administrasinya?”

“Dimas Wicaksana.”

Nama itu terdengar asing. Raka mencatatnya dalam buku tulis bekas yang ia keluarkan dari tas. Sampulnya terkelupas di bagian sudut, tetapi halaman dalamnya penuh catatan kecil yang hanya ia pahami sendiri.

Perempuan itu memperhatikan gerakannya. “Mas, jangan membuat masalah.”

“Saya sedang berusaha mencegah masalah.”

“Kalau berkasnya memang tidak tercatat, mungkin seleksinya selesai sampai di sini.”

Kalimat itu membuat jari Raka berhenti di atas kertas. Ia teringat gudang, tangan yang kapalan, dan malam-malam ketika ia memaksa matanya tetap terbuka untuk menyusun portofolio. Ia teringat suara Pak Seno yang menyuruhnya tidak mengirimkan cerita, melainkan bukti.

“Kalau saya pulang sekarang,” katanya, “yang hilang bukan hanya berkas saya.”

Perempuan itu tidak menjawab. Dari lorong belakang terdengar dengung pendingin udara dan bunyi roda troli melewati lantai semen.

Raka meninggalkan meja arsip setelah mendapatkan satu petunjuk: formulir pemindahan dokumen harus memiliki tiga tanda tangan. Ia kembali ke lantai atas dan mendatangi petugas penerimaan. Kali ini ia meminta melihat salinan tanda terima. Petugas itu menolak, sampai Raka menyebutkan bahwa ia akan mengajukan keberatan tertulis kepada panitia seleksi.

“Tidak perlu mengancam,” kata petugas tersebut.

“Saya tidak mengancam. Saya meminta dokumen yang mencantumkan tanda tangan Anda.”

Wajah petugas itu menegang. Setelah beberapa menit, ia membuka laci dan mengeluarkan salinan berkarbon. Nomor registrasi Raka memang tercetak di sana. Di bawahnya ada cap waktu dan tanda tangan petugas penerimaan.

Namun di kolom tujuan, tertulis kode A-17 dengan tinta hitam yang berbeda dari tinta pada bagian lain.

Raka mendekatkan kertas itu ke cahaya. “Ini ditulis belakangan.”

Petugas itu langsung menarik tangannya. “Saya tidak tahu.”

“Siapa yang mengubahnya?”

“Saya bilang, saya tidak tahu.”

“Bapak menyerahkan berkas saya ke arsip atau tidak?”

Petugas itu menatap ke arah kamera kecil di sudut langit-langit. “Saya menyerahkannya kepada staf administrasi.”

“Namanya?”

Ia diam.

Raka merasakan kemarahan naik, tetapi ia menahannya. Marah tidak akan membuat pintu terbuka. Ia melipat salinan tanda terima dan mengembalikannya.

“Staf itu laki-laki?”

Petugas tersebut menghela napas. “Dimas.”

Nama itu kembali muncul.

“Dimas Wicaksana?”

Petugas itu tidak menjawab, tetapi matanya turun ke meja. Jawaban itu cukup.

Raka menuju lorong karyawan. Seorang penjaga menghadangnya sebelum pintu lift.

“Bagian arsip bukan untuk umum.”

“Saya dipanggil mengikuti seleksi.”

“Kalau begitu tunggu panggilan resmi.”

“Saya sudah dipanggil. Sekarang berkas saya dinyatakan tidak ada.”

Penjaga itu memandang map cokelat di tangannya. “Bukan urusan saya.”

“Kalau berkas saya hilang di gedung ini, saya perlu memastikan siapa yang bertanggung jawab.”

Penjaga itu melangkah mendekat. Bau kopi pahit dari napasnya terasa jelas. “Mas, jangan bikin keributan.”

Raka hampir mundur. Di desa, ia biasa menghadapi orang yang berteriak di tengah rapat kelompok tani. Namun gedung ini berbeda. Setiap pintu punya kartu akses, setiap percakapan bisa dicatat, dan setiap kesalahan dapat dipakai untuk menyingkirkan orang seperti dirinya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Pak Seno muncul di layar.

Ada kabar?

Raka mengetik cepat.

Portofolio saya dianggap tidak terdaftar. Saya sedang mencari penyebabnya.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Jangan hanya percaya layar. Cari jejak kertas.

Raka menatap pesan itu. Kemudian ia menoleh ke meja penjaga.

“Pak, saya tidak akan masuk tanpa izin. Tapi tolong panggilkan kepala administrasi.”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, siapa yang mengawasi ruang arsip?”

Penjaga itu terdiam. Dari balik pintu terdengar suara langkah seseorang mendekat. Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun muncul dengan kemeja abu-abu dan kartu akses menggantung di lehernya. Ia berhenti ketika melihat Raka.

“Kamu pelamar seleksi itu?” tanyanya.

“Ya.”

“Kenapa masih di sini?”

“Karena portofolio saya hilang dari sistem.”

Laki-laki itu melirik map cokelat Raka, lalu tersenyum tipis. “Mungkin memang tidak memenuhi syarat.”

“Kalau begitu, panitia bisa menolaknya. Tidak perlu membuatnya tidak terdaftar.”

Senyum laki-laki itu menghilang. “Hati-hati bicara.”

“Bantu saya menemukan berkasnya, lalu saya akan berhenti bicara.”

Laki-laki itu menekan tombol lift. “Saya tidak punya waktu.”

“Namanya Dimas Wicaksana?”

Pintu lift terbuka. Laki-laki itu masuk tanpa menjawab. Sebelum pintu menutup, Raka melihat kartu akses di dadanya. Nama yang tercetak di sana jelas: Dimas Wicaksana.

Raka mengikuti lift lain setelah meminta bantuan penjaga untuk menghubungi bagian administrasi. Ia tidak tahu apakah tindakannya akan membuatnya dikeluarkan dari seleksi, tetapi kini pertanyaan itu lebih penting daripada ketakutan.

Di lantai arsip khusus, pintu besi memisahkan lorong utama dari ruang penyimpanan. Seorang staf perempuan menunggu di sana dengan wajah gelisah.

“Pak Dimas bilang berkas Anda belum boleh dibuka,” katanya.

“Pak Dimas ada di dalam?”

“Di ruang server.”

Raka melihat pintu lain di ujung lorong. Di atasnya tertulis: AKSES TERBATAS. Lampu kecil berwarna merah menyala di samping pemindai kartu.

“Kenapa dia di ruang server?”

“Saya tidak tahu.”

“Boleh saya lihat log pemindahan berkas?”

Perempuan itu menggigit bibir. “Saya bisa kehilangan pekerjaan.”

“Kalau saya kehilangan kesempatan, saya juga kehilangan pekerjaan yang bahkan belum saya dapatkan.”

Kalimat itu membuat perempuan tersebut menunduk. Setelah beberapa saat, ia membuka laci dan mengeluarkan lembar log. Kertasnya tipis, dengan beberapa baris yang dicetak dari sistem internal.

Nomor registrasi Raka tercantum di sana.

Status awal: diterima.

Dua jam kemudian, statusnya berubah menjadi dibatalkan.

Kolom pelaksana memuat kode pengguna: DW-04.

Raka merasakan telapak tangannya dingin. “Kode ini milik siapa?”

Perempuan itu melihat ke arah pintu ruang server. “Saya tidak boleh menjawab.”

“Di sini ada salinan fisiknya?”

“Log perubahan tersimpan di server.”

“Kalau begitu, saya perlu melihatnya.”

“Tidak bisa. Hanya kepala administrasi dan pengawas sistem.”

Dari balik pintu terdengar bunyi ketukan pendek, lalu suara mesin berputar. Raka melangkah mendekat. Celah di bawah pintu memancarkan cahaya biru dari dalam.

Ia tidak bisa masuk. Ia tidak punya kartu akses. Ia juga belum memiliki bukti kuat bahwa Dimas mengubah data. Hanya ada kode, nama, dan status yang berubah.

Namun jika ia menunggu, jejak itu mungkin lenyap.

Raka mengeluarkan ponselnya, memotret lembar log tanpa meminta izin. Kilatan kecil dari kamera membuat staf perempuan itu tersentak.

“Mas!”

“Saya hanya menyimpan salinan.”

“Itu dokumen internal.”

“Berkas saya juga dokumen internal sebelum seseorang menghapusnya.”

Pintu ruang server tiba-tiba terbuka. Dimas berdiri di ambang pintu, wajahnya lebih pucat daripada sebelumnya. Di belakangnya, rak-rak server menyala dengan lampu hijau dan biru. Udara di ruangan itu dingin, berbau logam dan debu kering.

“Kamu tidak boleh berada di sini,” katanya.

Raka mengangkat lembar log. “Kode DW-04 mengubah status portofolio saya.”

Dimas menatap kertas itu, lalu menatap ponsel Raka. “Kamu menuduh saya?”

“Saya bertanya.”

“Pertanyaanmu sudah seperti tuduhan.”

“Kalau bukan Anda, siapa?”

Dimas melangkah keluar dan menutup pintu server di belakangnya. “Sistem melakukan pembatalan otomatis terhadap berkas yang tidak memenuhi validasi.”

“Validasi apa?”

“Surat pengalaman kerja.”

“Surat itu memang belum sampai dari desa. Tapi portofolio saya disusun berdasarkan pengalaman yang saya tulis sendiri. Mengapa statusnya diterima lebih dulu?”

Dimas tidak segera menjawab.

Raka melihat celah itu. “Karena ada orang yang mengubahnya setelah diterima.”

“Jangan merasa penting hanya karena berhasil menemukan satu kode.”

“Setidaknya saya menemukan sesuatu. Panitia bahkan tidak memberi saya kesempatan bertanya.”

Dimas mendekat. Suaranya turun menjadi bisikan. “Kota ini tidak seperti desa kamu. Di sini, orang tidak masuk hanya karena berani bertanya.”

“Dan orang bisa tersingkir hanya karena seseorang menekan tombol?”

“Kalau kamu tidak paham aturan, jangan menyalahkan orang lain.”

Raka menatap pintu server yang kembali terkunci. Di baliknya, catatan perubahan mungkin masih tersimpan. Ia membutuhkan bukti yang lebih kuat daripada foto log dan dugaan.

“Buka riwayat perubahan,” katanya.

Dimas tertawa pendek. “Dengan wewenang apa?”

“Dengan hak sebagai pemilik berkas.”

“Kamu bukan karyawan.”

“Justru karena itu saya tidak punya siapa-siapa untuk melindungi saya.”

Kalimat itu keluar sebelum sempat ia tahan. Wajah ibunya, sawah yang menguning, dan malam ketika ia menulis portofolio di kamar kontrakan melintas sekilas. Ia tidak datang ke kota untuk meminta belas kasihan. Ia datang membawa pengalaman yang selama ini tidak pernah dianggap besar.

Dimas mengeluarkan kartu akses dari sakunya. “Kembali ke lobi. Tunggu keputusan panitia.”

“Keputusan yang sudah dibuat berdasarkan data yang diubah?”

Dimas berhenti. Matanya mengeras.

Raka segera mengangkat ponsel dan memotret kartu akses itu. Tidak ada suara rana yang terdengar, tetapi Dimas menyadarinya.

“Serahkan ponselmu.”

“Tidak.”

“Kalau tidak, saya panggil keamanan.”

“Panggil.”

Beberapa detik mereka saling menatap. Kemudian bunyi langkah terdengar dari ujung lorong. Staf perempuan tadi mundur, wajahnya semakin pucat.

Dimas akhirnya berbalik. “Tes kamu ditunda sampai verifikasi selesai.”

“Ditunda berapa lama?”

“Tidak tahu.”

“Siapa yang memutuskan?”

Dimas tidak menjawab. Ia masuk ke ruang server dan mengunci pintu dari dalam.

Raka berdiri di lorong dingin, memegang map cokelat di satu tangan dan ponsel di tangan lainnya. Ia berhasil mendapatkan foto log. Ia juga mendapatkan nama orang yang kode penggunanya muncul di sana. Tetapi foto itu belum membuktikan siapa yang mengubah data. Dimas bisa saja menyangkal. Sistem bisa saja menyebutnya kesalahan otomatis. Tanpa riwayat perubahan, semua yang Raka punya hanya potongan.

Ponselnya bergetar lagi. Pak Seno menelepon.

“Bagaimana?” suara Pak Seno terdengar berat.

“Portofolio saya pernah diterima, Pak. Lalu statusnya dibatalkan dua jam kemudian.”

“Siapa yang mengubah?”

“Staf bernama Dimas Wicaksana. Kodenya muncul di log.”

“Bukti?”

“Belum cukup.”

Di ujung sana terdengar suara kendaraan dan angin. “Jangan kejar nama saja. Kejar siapa yang diuntungkan.”

Raka memandang pintu ruang server. Lampu merah di sampingnya tetap menyala.

“Tes saya ditunda,” katanya.

“Berarti mereka belum berani menolakmu.”

Raka terdiam. Kalimat itu tidak menghapus rasa takut, tetapi mengubah bentuknya. Jika mereka benar-benar menganggapnya tidak layak, mereka tinggal menutup pintu. Penundaan berarti ada sesuatu yang harus mereka sembunyikan, atau sesuatu yang sedang mereka rapikan.

Ia menyimpan foto log ke beberapa tempat, lalu memasukkan ponselnya ke saku. Sebelum meninggalkan lorong, ia kembali menatap tulisan AKSES TERBATAS.

Di balik pintu itu, namanya telah diterima, lalu dihapus.

Dan untuk pertama kalinya, Raka tahu bahwa yang sedang ia lawan bukan sekadar sistem yang salah. Ada tangan manusia di dalamnya - tangan Dimas Wicaksana - namun belum ada bukti yang cukup untuk menggenggamnya.

Chapter 4

Kontrak Ditandatangani di Ruang Rapat

Raka menatap layar ponselnya ketika pesan itu masuk.

“Tes kedua diputuskan hari ini. Kandidat yang berkasnya tidak tercatat dianggap gugur.”

Jempolnya berhenti di atas layar. Kata gugur terasa lebih berat daripada semestinya. Bukan karena ia belum pernah ditolak, melainkan karena kali ini ia tahu berkasnya pernah diterima. Ada cap penerimaan, nama petugas, bahkan waktu penyerahan. Lalu seseorang menghapusnya.

Di luar lift, lantai atas gedung Yayasan Lumen Karya dipenuhi suara sepatu dan dengung pendingin ruangan. Raka merasakan map cokelat di bawah lengannya. Sudutnya telah melengkung karena terlalu sering dibuka, tetapi seluruh isinya masih lengkap: portofolio, salinan tanda terima, buku tulis bekas berisi catatan pengalaman memimpin kelompok tani, dan surat dari desa yang akhirnya tiba dua malam lalu.

Ia tidak datang untuk meminta belas kasihan. Ia ingin satu hal: namanya dikembalikan ke daftar seleksi.

Pintu lift terbuka. Seorang perempuan berseragam biru berdiri di dekat meja resepsionis.

“Raka Pratama?”

“Ya.”

“Pak Seno sudah menunggu. Langsung ke ruang rapat lantai dua puluh tiga.”

Perempuan itu menyerahkan kartu tamu. Matanya sempat turun ke sepatu Raka yang masih menyisakan debu gudang.

“Ruang rapat?” tanya Raka.

“Keputusan seleksi akan diumumkan di sana.”

Kalimat itu membuat tengkuknya menegang. Ia menggenggam pulpen biru di saku kemeja. Tintanya sering putus-putus, tetapi selama ini benda itu menemaninya menulis setiap angka, setiap nama, setiap janji yang hampir membuatnya menyerah.

Ruang rapat itu lebih besar daripada kamar kontrakannya. Dinding kaca menghadap deretan gedung tinggi yang berkilau di bawah matahari siang. Di tengah ruangan, meja panjang mengilap dikelilingi kursi hitam. Tiga orang direksi duduk di satu sisi. Pak Seno berdiri dekat layar, sementara Dimas berada di samping pintu dengan tablet di tangan.

Dimas tersenyum tipis.

“Kita bertemu lagi,” katanya.

Raka tidak membalas senyum itu. Ia berjalan ke kursi kosong di ujung meja.

Pak Seno mengetuk permukaan meja. “Duduklah, Raka.”

Di layar besar, terpampang judul: “Penetapan Kandidat Tahap Akhir Program CEO Lumen Karya.”

Di bawahnya hanya ada tiga nama.

Nama Raka tidak tercantum.

Darahnya seperti turun ke telapak kaki. Ia menoleh kepada Pak Seno.

“Keputusan ini dibuat sebelum saya datang?”

“Keputusan sementara,” jawab Pak Seno.

“Berdasarkan apa?”

Dimas mengangkat tablet. “Berdasarkan arsip resmi. Portofolio Anda tidak ditemukan dalam sistem pada batas waktu yang ditentukan. Karena itu, panitia menganggap Anda tidak memenuhi syarat.”

“Padahal saya menyerahkannya langsung kepada Anda.”

Dimas mengangkat alis. “Saya menerima banyak berkas. Tidak berarti setiap berkas yang saya pegang otomatis masuk sistem.”

“Berkas saya diterima oleh petugas arsip.”

“Petugas arsip tidak membuat keputusan akhir.”

Suara pendingin ruangan mendadak terdengar lebih keras. Raka membuka map cokelat itu dan mengeluarkan selembar tanda terima. Kertasnya sedikit kusut karena semalaman ia simpan di bawah bantal.

“Saya punya bukti penyerahan. Nomor arsipnya L-K-0471. Tanggal, jam, dan tanda tangan petugas tercatat.”

Salah satu direksi, perempuan berambut pendek bernama Bu Laras, mengambil kertas itu. Ia membaca dalam diam, lalu menyerahkannya kepada pria di sebelahnya.

Dimas tidak bergerak, tetapi jarinya mengetuk tablet dua kali.

Pak Seno menatap layar. “Nomor itu tidak aktif di sistem.”

“Karena dihapus,” kata Raka.

Ruangan menjadi sunyi.

Dimas tertawa pendek. “Tuduhan serius untuk seseorang yang bahkan belum lulus tes kedua.”

“Saya tidak menuduh tanpa dasar.”

“Dasar Anda apa? Perasaan?”

Raka merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Tangannya dingin. Ia membuka rekaman suara yang dibuatnya di lorong arsip tiga hari lalu. Saat itu ia berdiri di balik rak dokumen, memotret daftar serah-terima yang sempat terlihat di monitor petugas. Ia tidak yakin rekaman itu cukup, tetapi sekarang tidak ada ruang untuk ragu.

Suara Dimas terdengar dari pengeras ponsel.

“Masukkan berkas Raka ke meja saya dulu. Jangan dipindai sebelum saya periksa.”

Lalu suara petugas arsip menjawab, “Tapi batas waktunya - ”

“Saya yang bertanggung jawab.”

Rekaman berhenti.

Dimas menatapnya tajam. “Anda merekam percakapan tanpa izin?”

“Saya menyimpan bukti karena berkas saya hilang.”

“Bukti itu tidak menunjukkan bahwa saya menghapus apa pun.”

“Benar.” Raka menekan layar berikutnya. “Karena itu saya mencari bukti lain.”

Ia memperbesar foto daftar serah-terima. Baris nomor L-K-0471 terlihat jelas. Di kolom penerima tertulis nama Dimas Wicaksana. Di kolom status, tulisan “diproses” telah dicoret dan diganti dengan “tidak lengkap”.

Bu Laras mencondongkan tubuh. “Siapa yang mengubah status ini?”

Dimas menjawab cepat, “Saya tidak tahu. Semua staf punya akses.”

“Namun berkas itu ada di tangan Anda,” kata Raka.

“Untuk diperiksa, bukan untuk disimpan.”

Raka membuka mapnya lebih lebar. “Kalau begitu, mari periksa isinya sekarang.”

Ia menyusun dokumen di atas meja. Portofolio yang dibuatnya di antara jam kerja gudang dan malam panjang di kamar kontrakan. Surat dari ketua kelompok tani di desanya. Salinan rekening pembelian pupuk. Catatan pembagian hasil panen. Foto rapat di balai desa, dengan Raka berdiri di depan papan tulis penuh angka.

“Ini bukan dokumen baru,” katanya. “Ini salinan yang saya bawa ketika pertama kali mendaftar. Surat aslinya menyusul karena dikirim dari desa. Kalau ada yang mengatakan portofolio saya tidak lengkap, saya bisa menunjukkan setiap halaman yang diserahkan.”

Dimas menyandarkan punggung. “Portofolio bukan satu-satunya syarat. Pengalaman Anda terlalu kecil untuk posisi CEO.”

Raka merasakan wajahnya panas, tetapi suaranya tetap rendah.

“Pengalaman saya memang dimulai dari tanah yang tidak luas. Saya memimpin dua puluh tiga petani, bukan dua ribu karyawan. Namun keputusan yang salah tetap membuat orang kehilangan uang, meski ladangnya hanya satu hektare. Saya belajar memimpin ketika tidak ada anggaran untuk menyewa konsultan dan tidak ada ruang untuk menyalahkan orang lain.”

Pak Seno memandangnya lama. “Raka, masalahnya bukan hanya isi portofolio. Proses seleksi harus bisa dipertanggungjawabkan kepada dewan pengawas.”

“Justru karena itu saya meminta prosesnya diperiksa.”

Dimas berdiri. Kursinya bergeser dan menimbulkan bunyi kasar di lantai.

“Cukup. Kita tidak bisa mengubah keputusan setiap kali seorang kandidat datang membawa kertas kusut dan cerita dari desa.”

Raka menoleh kepadanya. “Saya tidak meminta keputusan diubah karena saya dari desa. Saya meminta keputusan diperbaiki karena data diubah.”

Bu Laras mengangkat tangan. “Dimas, duduk.”

Dimas menahan napas, lalu kembali ke kursinya.

Direktur pria yang sejak tadi diam, Pak Arman, mengambil buku tulis bekas dari meja. Sampulnya terkelupas pada bagian sudut. Ia membalik beberapa halaman. Tinta hitam dan biru memenuhi kertas-kertas itu: jadwal tanam, nama petani, jumlah utang, pembagian tugas, bahkan catatan pertengkaran antara dua anggota kelompok.

“Ini tulisan tangan Anda?” tanyanya.

“Ya.”

“Kenapa tidak diketik?”

“Karena ketika kelompok kami mulai, listrik di balai desa sering mati. Dan karena saya harus memastikan sendiri siapa yang sudah menerima bibit.”

Pak Arman membaca satu halaman lebih lama. “Di sini ada catatan tentang panen yang gagal.”

“Musim hujan datang lebih cepat. Kami kehilangan hampir sepertiga hasil.”

“Lalu apa yang Anda lakukan?”

“Saya hentikan pembagian keuntungan. Kami menjual sebagian hasil yang tersisa, membayar utang pupuk lebih dulu, lalu menyusun ulang jadwal tanam. Dua anggota ingin keluar. Saya datang ke rumah mereka dan meminta mereka bertahan sampai musim berikutnya.”

“Berhasil?”

“Tidak semuanya. Satu tetap pergi.”

Jawaban itu membuat Pak Arman mengangkat pandangan.

Raka menelan ludah. “Saya tidak selalu berhasil. Tetapi saya tidak menghapus angka kerugian agar laporan terlihat baik.”

Kalimat itu mengubah udara di ruangan.

Bu Laras menatap Dimas. “Apakah sistem mencatat riwayat perubahan status berkas?”

Dimas tidak langsung menjawab.

“Dimas?”

“Ada log, tetapi - ”

“Buka.”

Dimas menyentuh tablet. Beberapa detik berlalu. Wajahnya yang tadi tenang mulai kaku.

Pak Seno melangkah mendekat. “Apa yang muncul?”

“Log-nya tidak lengkap.”

“Tidak lengkap atau dihapus?”

Dimas menatap layar. “Ada penghapusan pada malam batas waktu.”

“Dengan akun siapa?” tanya Bu Laras.

Raka tidak berkedip.

Dimas mengunci tablet. “Akun saya. Tapi saya tidak melakukan penghapusan itu.”

“Siapa yang punya akses ke akun Anda?” Pak Arman bertanya.

Dimas diam.

Raka merasa kemenangan belum dekat. Bukti itu baru membuka pintu, bukan membawa siapa pun melewatinya. Dimas masih bisa menyangkal. Direksi masih bisa menutup rapat dengan alasan prosedur.

Pak Seno kembali ke tempatnya. “Kita perlu menunda keputusan. Tim audit harus memeriksa - ”

“Kalau ditunda lagi, saya gugur,” potong Raka.

“Raka - ”

“Beri saya tes kedua hari ini.”

Semua mata beralih kepadanya.

Raka berdiri. Telapak tangannya menekan meja. “Jika saya gagal, coret nama saya dengan alasan yang jelas. Jika saya berhasil, masukkan saya kembali. Jangan biarkan orang lain menentukan masa depan saya hanya dengan menghapus satu baris di layar.”

Dimas mencibir. “Anda pikir ini pasar desa? Keputusan perusahaan tidak dibuat karena keberanian bicara.”

“Tidak,” jawab Raka. “Keputusan dibuat berdasarkan bukti. Dan kalau bukti saya tidak cukup, uji saya sekarang.”

Pak Arman menatap Pak Seno. Bu Laras menyilangkan tangan, berpikir. Di balik kaca, suara sirene dari jalan raya naik lalu menghilang di antara gedung-gedung.

Akhirnya Bu Laras berkata, “Tes kedua dibuka kembali.”

Dimas langsung berdiri. “Itu melanggar jadwal.”

“Yang melanggar jadwal adalah perubahan data pada berkas kandidat,” jawab Bu Laras. “Kita tidak akan menghukum orang yang dirugikan oleh gangguan itu.”

Pak Seno mengangguk perlahan. “Tes kepemimpinan akan dilakukan sekarang. Raka, Anda punya dua puluh menit untuk mempresentasikan rencana penyelamatan salah satu unit usaha Lumen Karya yang sedang merugi.”

“Data kasusnya?”

Pak Seno menunjuk layar. Sebuah berkas digital muncul: unit distribusi pangan, kerugian tiga bulan, pemasok tidak teratur, dan pelanggan yang mulai beralih.

Raka membaca cepat. Angka-angka bergerak di kepalanya seperti karung yang harus ditimbang sebelum hujan turun. Ia membuka buku tulis bekas, lalu mengambil pulpen biru. Tintanya putus pada garis pertama.

Ia menggoyangkannya, mencoret ujungnya di telapak tangan, lalu menulis lagi.

“Waktu dimulai,” kata Pak Seno.

Dua puluh menit terasa seperti dua puluh detik. Raka menandai tiga hal: arus kas, ketepatan pasokan, dan kepercayaan pelanggan. Ia tidak menjanjikan pertumbuhan besar. Ia mengusulkan menghentikan dua jalur distribusi yang paling boros, mengikat pemasok lokal dengan pembayaran bertahap, dan membuka laporan pengiriman harian kepada pelanggan utama.

Ketika waktu habis, ia berdiri di depan layar.

“Masalah unit ini bukan semata-mata penjualan turun,” katanya. “Masalahnya, perusahaan membayar terlalu banyak untuk terlihat sibuk. Kita mengirim barang ke jalur yang tidak menghasilkan, sementara pelanggan yang masih membayar tidak mendapat kepastian.”

Pak Arman menyela, “Bagaimana Anda tahu pelanggan akan bertahan?”

“Saya tidak tahu. Karena itu saya tidak akan meminta mereka percaya lewat iklan. Saya akan memberi mereka jadwal pengiriman yang bisa dilihat dan kompensasi jika kami terlambat.”

“Biayanya?”

“Lebih kecil daripada kehilangan mereka.”

Bu Laras menunjuk angka di layar. “Pemasok tidak akan setuju dengan pembayaran bertahap.”

“Kalau mereka tidak setuju, kita tidak punya bisnis yang sehat. Namun sebelum memaksa mereka, saya akan menunjukkan volume pesanan yang pasti dan memangkas biaya jalur yang tidak perlu. Pemasok harus melihat bahwa pengorbanan mereka tidak dipakai untuk menutup kebocoran lain.”

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Raka menjawab dengan angka yang ada, mengakui bagian yang belum diketahui, dan menolak mengarang perkiraan. Saat Pak Arman menuduh rencananya terlalu sederhana, Raka teringat balai desa, hujan yang merusak panen, dan satu anggota kelompok yang memilih pergi.

“Sederhana bukan berarti mudah,” katanya. “Di desa, kami tidak punya pilihan untuk menambah utang setiap kali rencana gagal. Kami belajar memperbaiki kebocoran sebelum membeli ember baru.”

Tidak ada yang langsung bicara setelah itu.

Pak Seno menutup berkas di layar. “Raka, tunggu di luar.”

Raka mengambil map cokelat dan buku tulisnya. Saat melewati Dimas, ia berhenti.

“Log itu tidak akan hilang hanya karena tabletnya dikunci.”

Dimas menatapnya dingin. “Jangan terlalu cepat merasa menang.”

“Belum,” kata Raka. “Saya baru berhenti kalah.”

Ia keluar ke lorong. Pendingin udara menusuk kulitnya. Lima belas menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka.

Pak Seno berdiri membawa dua lembar dokumen.

“Direksi memutuskan menerima bukti Anda. Manipulasi data akan diaudit, dan nama Anda dikembalikan ke daftar resmi.”

Raka menatap dokumen itu. “Saya masuk tahap akhir?”

“Ya.”

Pak Seno menyerahkan kontrak. “Ini kontrak uji kepemimpinan. Selama tiga puluh hari, Anda akan memimpin proyek pemulihan unit distribusi pangan. Hasilnya akan diumumkan di hadapan mitra dan media pada forum Lumen Karya bulan depan.”

Raka membaca halaman pertama. Tiga puluh hari. Target yang terukur. Wewenang terbatas. Tanggung jawab penuh. Jika gagal, kontrak berakhir tanpa perpanjangan.

“Kalau saya berhasil?”

“Jalur menuju posisi CEO terbuka.”

Raka memegang pulpen biru. Tangannya masih ternoda tinta. Ia menandatangani namanya di garis terakhir. Tinta sempat terputus di huruf terakhir, lalu mengalir lagi ketika ia menekannya lebih kuat.

Pak Seno menandatangani setelahnya.

Dari balik kaca ruang rapat, kota membentang dengan jalan-jalan yang tidak pernah benar-benar sepi. Raka memasukkan satu salinan kontrak ke map cokelat. Salinan lainnya tetap di tangannya.

Namanya kini tercetak di daftar kandidat tahap akhir.

Namun di bawah tanda tangannya, ada satu kalimat yang membuat langkahnya tertahan:

“Seluruh perkembangan proyek dapat ditinjau publik.”

Raka memandang gedung-gedung tinggi di kejauhan. Ia telah memaksa pintu yang hampir menutup, tetapi kini seluruh kota akan melihat apakah ia pantas berada di baliknya.

Chapter 5

CEO Desa atau Kota? Pilihan Raka

Pagi itu, nama Raka terpampang di layar besar ruang pengumuman dewan, di antara dua kandidat lain yang mengenakan jas rapi dan sepatu mengilap. Telapak tangannya masih menyimpan bau solar dari perjalanan menuju gedung perusahaan, tetapi kemeja putih yang dipinjamkan Pak Seno telah disetrika tanpa lipatan.

Di bawah namanya tertulis: Kandidat Akhir CEO Lumen Karya.

Raka membaca kalimat itu berulang kali. Bukan karena tidak mengerti, melainkan karena takut satu kedipan akan membuat huruf-huruf tersebut lenyap seperti portofolionya dulu dari arsip perusahaan.

“Jangan berdiri seperti orang yang menunggu diusir,” kata Pak Seno dari sampingnya.

Raka menoleh. “Saya sedang mencoba percaya bahwa saya memang boleh ada di sini.”

Pak Seno tersenyum tipis. “Kau sudah memaksa pintu terbuka. Sekarang jangan mengecilkan tubuhmu sendiri di ambangnya.”

Di balik dinding kaca, kota bergerak tanpa menunggu siapa pun. Bus-bus menggeram di jalan layang, klakson bersahutan, dan matahari memantul dari gedung-gedung tinggi sampai menyilaukan. Raka teringat desa: jalan tanah yang basah setelah hujan, suara cangkul beradu dengan batu, serta wajah para petani yang menunggu keputusan ketika saluran air sawah mereka rusak.

Ia datang ke kota untuk menjadi CEO. Namun semakin dekat kursi itu, semakin kuat ketakutan yang menekan dadanya.

Bagaimana jika untuk mendapatkannya ia harus meninggalkan semua yang membuatnya pantas duduk di sana?

Pintu ruang pengumuman terbuka. Bu Laras berdiri di ambang, membawa tablet tipis dan setumpuk berkas. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi sedingin saat pertama kali menolak portofolio Raka.

“Raka, dewan sudah siap.”

Pak Seno menepuk bahunya. “Bawa kebenaranmu.”

Raka mengangguk, lalu melangkah masuk.

Ruang itu lebih besar daripada ruang rapat tempat ia membuktikan portofolionya. Di ujung ruangan terdapat meja panjang dengan tujuh anggota dewan. Pak Arman duduk di tengah, mengenakan jas abu-abu. Di sisi kanan, layar menampilkan hasil kontrak uji kepemimpinan yang telah berlangsung selama sebulan.

Nama proyek itu adalah Pasar Terhubung, sebuah sistem yang menghubungkan pemasok kecil dengan jaringan toko milik Lumen Karya. Raka memimpin tim yang semula berantakan oleh jadwal, anggaran, dan rasa curiga. Ia membuat mereka duduk bersama, mendatangi gudang pada malam hari, dan mengubah catatan kacau menjadi rencana kerja yang bisa dijalankan.

Hasilnya tampak di layar: biaya distribusi turun, waktu pengiriman lebih singkat, dan dua puluh tiga pemasok kecil berhasil masuk ke jaringan perusahaan.

Di bawah angka-angka itu, ada satu catatan merah.

Belum ada rancangan keberlanjutan untuk wilayah pedesaan.

Pak Arman menyilangkan tangan. “Kinerja proyekmu baik. Tim memberi penilaian tinggi. Bahkan setelah masalah arsip dan tekanan publik, kau tidak menggunakan kasus itu untuk menjatuhkan perusahaan.”

“Saya hanya meminta data dikembalikan,” jawab Raka.

“Dan kau mendapatkannya.”

“Setelah terlalu banyak orang hampir kehilangan kepercayaan.”

Pak Arman menatapnya lama. “Itulah sebabnya kami memanggilmu sebagai kandidat akhir, bukan langsung sebagai CEO.”

Raka merasakan tenggorokannya mengering. “Apa yang masih kurang?”

Bu Laras menyentuh layar. Gambar peta Indonesia muncul, disusul garis-garis distribusi yang berpusat di kota-kota besar.

“Dewan ingin mendengar visi kepemimpinanmu,” katanya. “Bukan visi yang terdengar bagus. Visi yang bisa mengubah cara Lumen Karya bekerja.”

Raka memandang peta itu. Garis-garis berwarna biru tampak seperti akar yang tumbuh dari pusat kota, tetapi hampir tidak menyentuh daerah tempat ia dibesarkan.

Pak Arman melanjutkan, “Ada tekanan dari beberapa pemegang saham agar perusahaan fokus pada pasar kota. Pertumbuhan di sana lebih cepat. Lebih mudah diukur. Lebih aman.”

“Dan desa?” tanya Raka.

“Desa membutuhkan biaya lebih besar, waktu lebih panjang, dan hasil yang tidak langsung terlihat.”

“Jadi saya harus memilih?”

“Tidak ada yang memaksamu memilih.” Pak Arman berhenti sejenak. “Tetapi kursi CEO bukan tempat untuk membawa semua kerinduan pribadi.”

Kalimat itu mengenai Raka lebih dalam daripada yang ia duga. Kerinduan pribadi. Seolah sawah, kelompok tani, dan malam-malam ketika ia menghitung hasil panen di buku tulis bekas hanyalah beban yang ia bawa ke gedung tinggi.

Bu Laras menyerahkan selembar kertas. “Dalam sepuluh menit, kau akan berbicara di panggung audiensi publik. Siaran itu sudah diumumkan. Karyawan, pemasok, dan masyarakat akan mendengar keputusan dewan.”

Raka melihat kertas tersebut. Di bagian bawah terdapat satu pertanyaan yang dicetak tebal.

Apakah Raka Pratama akan memimpin Lumen Karya sebagai perusahaan kota, atau membawa perusahaan itu ke desa?

Ia hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya embusan napas pendek.

“Pertanyaan ini sudah dijawab sebelum saya masuk,” katanya.

“Belum,” jawab Bu Laras. “Kami ingin mendengar jawabanmu.”

Raka keluar dari ruang dewan dengan langkah yang terasa lebih berat daripada ketika ia masuk. Koridor gedung berbau pendingin ruangan dan karpet baru. Beberapa karyawan berhenti berbicara saat ia lewat. Ada yang tersenyum, ada yang menunduk ke layar telepon, dan ada yang menatapnya seperti sedang menunggu kesalahan berikutnya.

Di dekat lift, ia membuka buku tulis bekas dari dalam map cokelat. Sampulnya telah semakin terkelupas. Di halaman pertama, dengan tinta pulpen biru yang putus-putus, tertulis catatan lama:

Pemimpin tidak berdiri paling depan untuk terlihat. Ia berdiri di depan ketika orang lain membutuhkan jalan.

Raka menutup buku itu.

“Masih menulis kalimat desa?” suara Dimas terdengar dari belakang.

Raka berbalik. Dimas berdiri dengan wajah lebih pucat daripada biasanya. Sejak pemeriksaan arsip, ia dipindahkan dari bagian administrasi dan kini menunggu keputusan dewan etik. Tidak ada lagi senyum tipis yang dulu membuat Raka merasa sedang diremehkan.

“Masih,” jawab Raka.

Dimas memasukkan tangan ke saku celana. “Kau tahu, kalau terpilih, kau akan berubah. Semua orang berubah di gedung ini.”

“Mungkin.”

“Di sini, angka lebih kuat daripada cerita tentang sawah.”

Raka menatapnya. “Angka yang tidak sampai ke desa tetap punya batas.”

Dimas menghela napas. “Kau pikir kursi itu akan membuatmu bisa menyelamatkan semua orang?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Raka memandang pantulan dirinya di pintu lift. Kemeja pinjaman, rambut yang dipotong tergesa-gesa, dan wajah yang masih menyimpan debu jalan dari kampung halaman.

“Saya tidak ingin menyelamatkan semua orang,” katanya. “Saya ingin memastikan perusahaan ini tidak hanya tumbuh di tempat yang sudah punya kesempatan.”

Dimas terdiam. Untuk pertama kalinya, Raka melihat bukan lawan di hadapannya, melainkan seseorang yang telah terlalu lama menganggap bertahan hidup berarti menghapus bagian dirinya sendiri.

Pintu lift terbuka. Raka masuk tanpa menunggu jawaban.

Panggung audiensi berada di lantai dasar, di balik dinding kaca yang menghadap plaza perusahaan. Kursi-kursi telah penuh. Karyawan berdiri di sisi ruangan, sementara beberapa pemasok kecil duduk di baris depan. Kamera menyala. Di luar, orang-orang yang melihat pengumuman publik berkumpul di balik pagar.

Raka berdiri di podium. Lampu putih menyentuh wajahnya. Dari pengeras suara terdengar dengung kecil, lalu sunyi.

Pak Arman naik ke panggung lebih dulu.

“Lumen Karya telah menyelesaikan rangkaian uji kepemimpinan,” katanya. “Hari ini, dewan akan mendengar visi kandidat akhir sebelum menetapkan keputusan.”

Ia mempersilakan Raka.

Raka menatap lautan wajah di depannya. Ada Pak Seno di sisi panggung. Bu Laras berdiri dekat layar. Di baris depan, seorang pemasok dari proyek Pasar Terhubung memeluk map berisi kontrak baru. Raka mengenal wajah itu. Namanya Pak Jaya, pemilik usaha keripik singkong yang selama ini hanya menjual lewat tengkulak.

Raka memegang sisi podium. Kayunya licin dan dingin.

“Saya pernah mengira menjadi CEO berarti meninggalkan desa,” katanya.

Beberapa orang bergerak di kursi. Kamera tetap menyala.

“Saya pikir saya harus berbicara seperti orang kota, berpakaian seperti orang kota, dan membuat keputusan yang hanya bisa dipahami oleh orang kota. Saya takut kalau membawa nama desa terlalu jauh, saya akan dianggap tidak cukup besar untuk memimpin perusahaan sebesar Lumen Karya.”

Ia berhenti. Di layar belakangnya, peta distribusi masih menampilkan kota-kota besar.

“Namun selama uji kepemimpinan, saya menemukan sesuatu. Tim kami tidak gagal karena kekurangan orang pintar. Kami gagal ketika keputusan dibuat jauh dari orang yang menanggung akibatnya.”

Pak Arman menatapnya, wajahnya tidak berubah.

Raka melanjutkan, “Lumen Karya tidak perlu memilih antara kota dan desa. Perusahaan ini harus membangun jalan dua arah. Kota memberi teknologi, akses, dan pasar. Desa memberi bahan, keterampilan, serta pengetahuan yang tidak bisa dibeli dari ruang rapat.”

Seorang wartawan mengangkat tangan. “Apakah itu berarti perusahaan akan mengalihkan modal dari proyek kota ke program sosial?”

“Tidak,” jawab Raka. “Program sosial yang tidak terhubung dengan operasi hanya akan menjadi hiasan. Saya mengusulkan program desa yang menjadi bagian dari bisnis utama.”

Bu Laras menatap layar, lalu mengubah tampilan. Muncul rancangan yang telah Raka susun semalaman: pusat pengumpulan hasil desa, pelatihan pengelolaan usaha, kontrak pembelian yang adil, dan jaringan distribusi yang menghubungkan desa dengan pasar kota.

“Mulai tahun pertama,” kata Raka, “Lumen Karya akan membangun tiga pusat kerja sama desa. Bukan sebagai amal, melainkan sebagai pemasok dan mitra resmi. Para petani dan pengusaha kecil mendapat akses pembiayaan, pelatihan, serta kepastian pembelian. Perusahaan mendapat pasokan yang lebih stabil dan pasar baru.”

Seorang anggota dewan berdiri dari kursinya. “Berapa biaya awalnya?”

“Sebelas persen dari anggaran ekspansi tahun pertama.”

“Dan jika hasilnya tidak sesuai proyeksi?”

“Evaluasi dilakukan setiap tiga bulan. Jika satu pusat gagal, kita perbaiki modelnya. Jika tiga-tiganya gagal, saya yang bertanggung jawab.”

Ruangan menjadi lebih senyap.

Pak Arman mengangkat mikrofon. “Itu jawaban seorang pengelola program. Kami sedang mencari CEO.”

Raka memandangnya. “CEO bukan orang yang hanya memilih proyek dengan risiko paling kecil, Pak. CEO adalah orang yang menentukan risiko mana yang layak ditanggung perusahaan.”

Di baris depan, Pak Jaya menundukkan kepala. Tangannya menggenggam map lebih erat.

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Bagaimana mengukur dampak? Siapa yang mengawasi? Bagaimana mencegah program itu menjadi jalur korupsi baru? Raka menjawab dengan angka, jadwal, dan tanggung jawab yang jelas. Ia tidak menyembunyikan kelemahan. Desa tidak akan berubah hanya karena satu kontrak. Jalan distribusi bisa rusak. Harga bisa jatuh. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam satu keputusan buruk.

Namun setiap kali ia menyebut desa, suaranya tidak mengecil.

Setelah hampir satu jam, Pak Arman kembali naik ke panggung. Raka mundur setengah langkah. Keringat dingin merayap di punggungnya meski ruangan terlalu dingin.

“Dewan telah mendengar visi dan rancangan kerja Raka Pratama,” kata Pak Arman. “Kami juga telah mempertimbangkan hasil uji kepemimpinan, laporan audit arsip, serta penilaian tim.”

Raka menahan napas.

Pak Arman membuka map hitam di tangannya.

“Dengan keputusan bulat, dewan menetapkan Raka Pratama sebagai CEO Lumen Karya.”

Suara tepuk tangan pecah. Tidak langsung merata. Beberapa orang berdiri lebih dulu, lalu yang lain mengikuti. Pak Seno menepuk kedua tangannya dengan mata yang basah. Bu Laras tersenyum lebar, senyum yang belum pernah Raka lihat darinya.

Raka sendiri tidak bergerak.

Kata CEO itu terdengar seperti sesuatu yang pernah ia tulis di sudut buku tulis bekas, bukan sesuatu yang baru saja diserahkan kepadanya di depan kamera.

Pak Arman mengangkat tangan, meminta ketenangan.

“Penetapan ini disertai syarat,” lanjutnya. “Program kerja sama desa yang dipaparkan Raka menjadi bagian resmi dari rencana strategis Lumen Karya. Dewan akan meninjau pelaksanaannya setiap tiga bulan. Apabila program tersebut dihentikan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, penetapan ini dapat dievaluasi.”

Tepuk tangan mereda.

Raka maju ke mikrofon. “Saya menerima syarat itu.”

Pak Arman menyerahkan dokumen keputusan. Berat kertasnya hampir tidak terasa, tetapi jari-jari Raka bergetar ketika menerimanya.

Di luar gedung, suara kendaraan kembali terdengar. Kota tidak berubah. Gedung-gedung tinggi masih berdiri, jalanan masih padat, dan udara masih membawa bau asap. Namun di tangannya, nama Raka tidak lagi tampak seperti permintaan.

Pak Seno mendekat setelah kamera dimatikan.

“Sekarang kau mau pulang ke desa?” tanyanya.

Raka memandang dokumen CEO, lalu peta di layar yang kini menampilkan tiga titik baru di wilayah pedesaan.

“Bukan pulang untuk bersembunyi,” katanya. “Saya akan pulang membawa pekerjaan.”

Pak Seno mengangguk. “Dan setelah itu?”

Raka membuka buku tulis bekasnya. Ia mengambil pulpen biru yang tintanya tersendat, lalu menulis di halaman kosong terakhir.

Lumen Karya: kota dan desa tumbuh dalam satu jalan.

Tinta itu sempat putus di tengah kalimat. Raka menggoyangkan pulpen, mencoret bagian yang tidak jelas, lalu menulis ulang dengan lebih tegas.

Di belakangnya, layar perusahaan mulai menampilkan pengumuman baru. Di depannya, tiga pusat kerja sama desa menunggu dibangun, dengan anggaran, tenggat, dan nama-nama orang yang akan menagih janjinya.

Raka memasukkan buku itu kembali ke dalam map cokelat.

Ia telah menjadi CEO.

Kini, untuk pertama kalinya, ia harus membuktikan bahwa kursi itu bisa tetap menghadap ke desa.

Final Thoughts

Perjalanan Raka mengajarkan bahwa keberhasilan bukan kilat yang menyala sekali, melainkan rantai keputusan kecil yang diulang sampai menjadi karakter. Saat semua hambatan terasa seperti arsip yang terkunci, justru di situlah ia menemukan cara membaca ulang hidupnya sendiri.

Ketika cahaya sore jatuh di halaman kantor yang dulu hanya ia bayangkan, Anda akan paham bahwa mimpi besar selalu punya alamat: ia menuntut keberanian untuk hadir, dan ketekunan untuk bertahan sampai nama Anda disebut. Jadi, simpanlah satu gambar terakhir di kepala - Raka berdiri tegak dengan keyakinan yang tak lagi bisa ditarik mundur - karena Pemuda Desa Jadi CEO bukan akhir cerita, melainkan awal cara Anda memandang kemungkinan.



PEMUDA DARI DESA

Pemuda Desa Jadi CEO

Papan nama stasiun di ujung gang masih bergetar ketika kereta terakhir melintas, membuat genangan di bawah sandal Raka Pratama beriak seperti kaca retak. Ia baru tiba dua jam lalu, tetapi kota besar itu sudah terasa seperti mesin yang tak punya tombol berhenti.


“Kamarnya di atas,” kata pemilik kontrakan, seorang perempuan berkaus lengan panjang yang membawa kunci berkarat. “Jangan berisik. Jangan bawa teman menginap. Bayar sebelum tanggal lima.”


Raka mengangguk sambil memeluk tas ransel yang isinya tak lebih dari tiga pasang pakaian, map ijazah, dan surat rekomendasi dari kepala desa. Uang di dompetnya tinggal dua ratus delapan puluh ribu rupiah. Ia harus mendapat pekerjaan sebelum uang itu habis.


“Kalau belum dapat kerja, boleh dicicil, Bu?” tanyanya.


Perempuan itu menatapnya dari ujung kepala sampai sepatu kanvas yang terkena lumpur. “Di kota ini semua orang bilang begitu. Besok kalau mau makan, cari kerja. Bukan cari alasan.”


Pintu kamar dibuka. Ruangan itu selebar dua langkah orang dewasa, dengan kasur tipis menempel ke dinding dan jendela kecil menghadap atap seng. Kipas angin di sudut berputar tersendat, mengeluarkan bunyi cekikikan setiap beberapa detik. Dari bawah terdengar suara pedagang mi, klakson, dan pengumuman stasiun yang patah-patah tertelan deru kereta.


Raka meletakkan tas di lantai. Ia belum sempat duduk ketika suara lelaki dari gang memanggil.


“Yang mau kerja harian, kumpul di depan warung! Angkut barang! Dibayar sore!”


Raka langsung turun.


Di depan warung, enam orang sudah berdiri di bawah lampu putih yang dikerumuni ngengat. Mandor bertubuh pendek memegang daftar kusut.


“Kamu baru?” tanyanya.


“Baru sampai, Pak.”


“Bisa angkat?”


“Bisa.”


“Bisa tahan dimaki?”


Raka menelan ludah. “Bisa.”


Mandor menunjuk bak truk yang penuh kardus mi instan. “Naik.”


Malam itu Raka mengangkut kardus dari truk ke gudang kecil di belakang pasar. Telapak tangannya panas, bahunya seperti ditarik dari sendi, dan keringat bercampur debu menempel di leher. Setiap kali ia memperlambat langkah, mandor berteriak.


“Jangan seperti orang jalan-jalan! Kota ini bayar orang yang cepat!”


Raka menggigit bagian dalam pipinya. Di desa, ia pernah mengangkat karung gabah, menarik gerobak pupuk, dan membantu ayahnya memperbaiki atap kandang. Namun di sini, tenaga yang sama seolah tak pernah cukup.


Menjelang tengah malam, mandor menyerahkan uang tiga puluh lima ribu.


“Besok ada lagi?” tanya Raka.


“Kalau masih kuat.”


Raka memasukkan uang itu ke dompet. Tiga puluh lima ribu bukan jalan menuju mimpinya. Namun setidaknya cukup untuk nasi, air minum, dan ongkos mencari pekerjaan lain.


Pagi berikutnya, sebelum matahari muncul di antara gedung-gedung, Raka berjalan menyusuri gang. Ia mencari tempat yang disebut pemilik kontrakan semalam: papan pengumuman lowongan di dekat pintu belakang stasiun. Kata perempuan itu, banyak orang datang ke sana membawa map, lalu pergi membawa wajah yang lebih pucat.


Gang itu semakin sempit mendekati stasiun. Motor melintas tanpa memberi ruang. Seorang penjual bubur memukul mangkuk dengan sendok, sementara tukang koran berteriak menyebut harga saham dan berita politik. Raka harus menempel ke tembok ketika dua petugas kebersihan mendorong tong sampah besar.


Papan pengumuman itu berada di bawah tangga beton, terlindung kanopi plastik yang sobek. Kertas-kertas ditempel bertumpuk, sebagian basah, sebagian menguning. Ada lowongan pelayan, penjaga gudang, kurir, operator mesin, dan pekerja bongkar muat.


Raka mendekat.


Matanya berhenti pada selembar kertas putih yang masih bersih.


DICARI: CALON CEO PROGRAM PERCEPATAN USAHA.


Ia membaca baris berikutnya dua kali.


Sebuah perusahaan distribusi bernama Arunika Niaga membuka jalur seleksi untuk calon pemimpin operasional. Pelamar harus memiliki kemampuan mengatur tim, membaca laporan keuangan, dan menyelesaikan masalah lapangan. Pengalaman kerja menjadi nilai tambah, tetapi bukan syarat mutlak.


Di bagian bawah tertulis alamat surel dan tenggat pengiriman berkas: pukul dua puluh tiga lima puluh sembilan, tiga hari lagi.


Raka memegang ujung kertas itu. Kata CEO tampak terlalu besar untuk papan kusam di gang sempit. Terlalu tinggi untuk seseorang yang semalam mengangkut kardus dan tidur dengan suara kereta.


Seorang pemuda berjaket hitam menyenggol bahunya.


“Jangan lama-lama, Mas. Mau daftar atau cuma baca?”


Raka mundur sedikit. “Ini lowongan sungguhan?”


Pemuda itu tertawa pendek. “Kalau mau jadi CEO, biasanya bukan berdiri di gang begini.”


“Alamat perusahaannya ada.”


“Alamat bisa dicetak siapa saja.”


Raka kembali menatap kertas itu. Di pojok kanan bawah tercetak lambang Arunika Niaga, sama seperti logo pada kendaraan pengiriman yang sering melewati pasar desa. Ia pernah melihatnya ketika membantu ayah mengantar hasil panen ke pengepul. Perusahaan itu besar. Barang-barangnya masuk ke banyak warung.


“Mas, ada komputer?” tanya Raka.


“Di stasiun ada tempat cetak.”


Raka merobek pelan bagian bawah iklan yang memuat alamat surel....


Jumat, 13 Februari 2026

Program MBG dalam Setahun berjalan

Program MBG  dalam Setahun berjalann





Nasional– Rentetan kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Data yang dirilis Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebutkan, dalam kurun waktu satu tahun pelaksanaan program MBG hingga Januari 2026, jumlah korban keracunan secara nasional telah mencapai 21.254 orang.

Angka tersebut dinilai sangat mengkhawatirkan dan mencerminkan lemahnya sistem pengawasan, standar keamanan pangan, serta manajemen distribusi makanan dalam program strategis nasional tersebut. JPPI menegaskan bahwa program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi peserta didik justru berpotensi membahayakan keselamatan anak-anak dan masyarakat penerima manfaat apabila tidak dikelola secara profesional dan bertanggung jawab.

“Jumlah korban yang mencapai puluhan ribu orang ini bukan angka kecil. Ini adalah alarm keras bagi negara. Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama,” tegas pernyataan JPPI dalam keterangannya.

Di sisi lain, publik juga menyoroti sikap pemerintah pusat yang dinilai belum menunjukkan langkah tegas, meski kasus keracunan MBG terus berulang di berbagai daerah. Kritik mencuat terhadap Badan Gizi Nasional (BGN) selaku lembaga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program, termasuk soal standar dapur, mitra penyedia makanan, hingga pengawasan kualitas bahan pangan.

Ironisnya, di tengah rentetan insiden tersebut, muncul pula sorotan terhadap pemberian penghargaan kepada pimpinan BGN, yang dinilai tidak sejalan dengan kondisi di lapangan. Sejumlah kalangan menilai, sebelum penghargaan diberikan, seharusnya dilakukan evaluasi menyeluruh dan transparan terhadap kinerja program MBG.

Masyarakat sipil mendesak **Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia untuk segera turun tangan, melakukan audit nasional, serta mengambil langkah tegas berupa sanksi administratif hingga pidana terhadap pihak-pihak yang terbukti lalai atau bermain dalam pelaksanaan program MBG.

JPPI juga meminta agar pelaksanaan MBG dihentikan sementara di daerah-daerah rawan, sampai sistem keamanan pangan, distribusi, dan pengawasan benar-benar dibenahi. “Program sebesar ini tidak boleh dijalankan dengan uji coba yang mempertaruhkan nyawa rakyat,” tegas JPPI.

Kasus keracunan MBG dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut hak atas kesehatan, hak atas pendidikan yang aman, serta tanggung jawab negara terhadap warganya, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.